- Tim peneliti Politeknik Negeri Lampung mengolah sampah makanan Program Makan Bergizi Gratis menggunakan larva lalat tentara hitam pada tahun 2026.
- Hasil riset menunjukkan limbah lele goreng menghasilkan efisiensi biokonversi magot tertinggi mencapai 23,05 persen bagi peternakan.
- Inovasi ini menciptakan ekonomi sirkular untuk menghasilkan pakan ternak dan pupuk organik demi mendukung program nasional.
SuaraLampung.id - Di balik gegap gempita pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terselip sebuah ancaman nyata yang jarang dibicarakan yakni gunung sampah sisa makanan.
Menjawab kekhawatiran tersebut, Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menghadirkan solusi konkret dengan menyulap limbah dapur MBG menjadi tambang ekonomi baru menggunakan larva lalat tentara hitam alias Black Soldier Fly (BSF) atau dikenal dengan magot.
Inovasi yang digagas tim peneliti Polinela ini menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Sampah sisa konsumsi harian tidak dibuang percuma ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), melainkan diubah melalui proses biokonversi menjadi biomassa magot tinggi protein untuk pakan ternak, serta menghasilkan pupuk organik berkualitas (kasgot).
Dosen Polinela, Sarono, membeberkan bahwa riset ini menguji langsung karakteristik enam menu sisa makanan yang lazim disajikan dalam program MBG yaitu lele goreng, ayam goreng, tahu-tempe goreng, telur, roti tawar, hingga roti manis.
Baca Juga:Sulap Pohon Tua Berbuah dalam 2 Tahun, Klon Kopi Racikan Petani Lampung Resmi Diadopsi Pemerintah
Seluruh sampel diuji melalui metode fermentasi spontan dengan rentang tiga hingga 15 hari. Hasilnya cukup mengejutkan. Limbah hewani lele goreng tercatat sebagai bahan baku paling efisien untuk membesarkan larva magot.
"Secara numerik, limbah lele goreng menghasilkan efisiensi biokonversi tertinggi mencapai 23,05 persen. Sementara limbah roti tawar dan roti manis berada di kisaran 18,52 persen dan 18,39 persen," ungkap Sarono, Jumat (30/10/2026).
Namun urusan residu pengolahan atau pupuk kasgot, limbah roti manis justru keluar sebagai penghasil bobot tertinggi yakni mencapai 165,67 gram. Sebaliknya, lele goreng mencatatkan residu terendah dengan bobot 128,31 gram.
Temuan ini membuktikan bahwa strategi pengolahan limbah tidak bisa diseragamkan. Variasi menu harian yang dikonsumsi siswa memerlukan formula dan metode biokonversi yang adaptif agar siklus produksi magot berjalan maksimal.
Sarono menegaskan, teknologi ini bukan sekadar riset di atas kertas. Peluang integrasi skala industri terbuka lebar dengan menghubungkan perguruan tinggi, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pembudidaya magot lokal, hingga industri pabrik pakan.
Baca Juga:Cekcok Transfer Uang Berujung Maut: Pemilik Kafe di Lampung Timur Tikam Pelanggan
Kendati demikian, sebelum diadopsi secara massal pada rantai pasok program MBG nasional, model ini memerlukan proyek percontohan (pilot project) yang matang guna menguji kelayakan operasional, kepatuhan mutu pakan, hingga serapan pasar.
Jika dieksekusi dengan tepat, program Makan Bergizi Gratis tak hanya berhasil mencetak generasi emas bebas stunting, tetapi juga melahirkan ekosistem ekonomi hijau yang menguntungkan masyarakat dari hulu ke hilir. (ANTARA)