- Pendiri Abercrombie & Kent, Geoffrey Kent, bersama 48 tamu eksklusif mendarat di Lampung menggunakan jet pribadi pada 10–12 Oktober 2026.
- Rombongan konglomerat global tersebut mengikuti ekspedisi dunia 24 hari dengan biaya mulai dari Rp3,6 miliar per orang.
- Selama di Lampung, mereka menikmati alam autentik, budaya lokal, dan menginap di Lampung Marriott Resort & Spa.
SuaraLampung.id - Ketika wisatawan berkantong tebal biasanya berebut menikmati vila mewah di Bali atau berlayar dengan pinisi di Labuan Bajo, para pelancong kelas dunia ini justru mengambil arah berbeda.
Di peta Indonesia, jet pribadi sewaan mereka hanya melingkari satu titik pendaratan yakni di ujung selatan Sumatra, Lampung.
Sebuah Boeing 757 berdesain khusus mendarat mulus di Lampung, membawa Geoffrey Kent, legenda hidup industri pariwisata dunia sekaligus pendiri Abercrombie & Kent (A&K).
Bersamanya, ada 48 tamu eksklusif yang sedang menjalani ekspedisi megah bertajuk Around the World with Geoffrey Kent: An Inspiring Expedition by Private Jet.
Baca Juga:Kotak Rokok Berisi Sabu, Kurir Sistem Tempel Tak Berkutik Dicegat Polisi di Kedaton
Perjalanan 24 hari melintasi lima benua ini dibanderol dengan harga fantastis, mulai dari US$198.500 atau sekitar Rp3,6 miliar per orang.
Berangkat dari Los Angeles menuju Boston, rute global ini melintasi Kepulauan Cook, Australia, Mozambik, hingga Madeira. Namun untuk Indonesia, pilihan mereka bulat: Lampung, bukan destinasi arus utama.
Mengapa Lampung? Bagi kaum ultra-high net-worth yang sudah khatam menjelajahi setiap sudut bumi, gemerlap pariwisata massal telah kehilangan magisnya. Mereka mencari apa yang kini langka yaitu alam yang autentik dan narasi budaya yang belum terdistorsi.
Lampung menyajikan paradoks yang memikat. Perpaduan dramatis antara riwayat vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, hamparan pulau sunyi di Teluk Lampung, kebun kopi robusta di dataran tinggi, serta tenun kain tapis berbenang emas yang digarap berbulan-bulan.
Nilai eksklusivitas kian sempurna dengan keberadaan Taman Nasional Way Kambas, benteng terakhir perlindungan gajah dan badak sumatra yang terancam punah.
Baca Juga:Geger di Kupang Teba! Wanita Muda Ditemukan Tewas di Parit: Tubuh Terikat Tambang, Kepala Penuh Luka
Lebih dari itu, rombongan disapa oleh kearifan lokal piil pesenggiri, khususnya prinsip nemui nyimah, falsafah luhur masyarakat Lampung yang memuliakan tamu dengan pintu terbuka dan ketulusan hati.
Selama singgah pada 10–12 Oktober 2026, rombongan konglomerat global ini memusatkan kegiatannya di Lampung Marriott Resort & Spa di kawasan pesisir Teluk Lampung.
Di sanalah mereka menyelami cita rasa kuliner otentik dan terpikat oleh dua seni pertunjukan baru berupa Tari Kejayaan Emas Swarnadwipa serta Muda-Mudi Dendang Ketipung Lampung.
Co-founder kawasan wisata The Hurun, Selphie Bong (Ms Bong), menegaskan bahwa daya tarik Lampung justru terletak pada orisinalitasnya.
“Kami tidak sedang berusaha menjadi Bali berikutnya. Lampung punya ceritanya sendiri,” tegas Ms Bong. “Ada hutan yang masih dijaga, ada tapis yang ditenun pelan-pelan, ada cara orang Lampung menyambut tamu. Kami bersyukur cerita itu sampai ke orang-orang yang sudah melangkah sejauh ini.”
Pujian pun mengalir langsung dari Geoffrey Kent. Melalui catatan pribadinya, pelopor safari mewah dunia itu mengaku terpikat oleh keramahan lokal.