- Warga Ulubelu, Tanggamus merasakan gempa mikro yang sering terjadi sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat setempat.
- PT PGE Area Ulubelu berkolaborasi dengan Universitas Lampung melakukan kajian ilmiah untuk memetakan sumber aktivitas seismik tersebut.
- Tim ahli Unila menggunakan peralatan khusus guna menganalisis struktur bawah permukaan bumi untuk kebutuhan mitigasi bencana.
SuaraLampung.id - Akhir-akhir ini, bumi di bawah kaki warga Ulubelu, Tanggamus, sering bergetar. Getaran-getaran halus atau gempa mikro yang kian sering terasa mulai memicu tanya sekaligus keresahan di tengah masyarakat.
Menanggapi getaran yang tak biasa ini, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Ulubelu memilih langkah transparan: mengundang ilmu pengetahuan untuk bicara.
Melalui kolaborasi strategis dengan Universitas Lampung (Unila), PGE Area Ulubelu memulai kajian ilmiah mendalam. Tujuannya untuk membedah aktivitas seismik di wilayah Kabupaten Tanggamus yang secara geologis dikenal memiliki karakteristik tektonik dan vulkanik yang sangat kompleks.
General Manager PT PGE Tbk Area Ulubelu, Edy Sudarmadi, menegaskan bahwa perusahaan ingin memastikan setiap operasional mereka berpijak pada prinsip kehati-hatian yang didukung data empiris.
Baca Juga:Kelabui Pengusaha BRILink, Oknum Kades di Tanggamus Kembali Tersandung Kasus Penipuan
"Kami berkomitmen mendukung kajian ilmiah yang objektif dan transparan. Melalui penelitian ini, kami berharap masyarakat memperoleh informasi yang jelas, terukur, dan berbasis data mengenai aktivitas kegempaan yang terjadi," ujar Edy, Rabu (10/6/2026).
Tim ahli dari Unila tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa peralatan khusus yang mampu memotret pergerakan struktur bawah permukaan bumi secara detail.
Data ini diharapkan mampu memetakan sumber kegempaan secara komprehensif, sehingga mitigasi risiko bencana di masa depan bisa dilakukan dengan lebih presisi.
Meneliti Ulubelu berarti juga membaca kembali buku sejarah geologi Lampung. Guru Besar Fakultas Teknik Unila, Prof Ahmad Zaenudin, menyoroti bahwa aktivitas di bawah permukaan saat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika masa lalu.
"Penelitian ini perlu mempertimbangkan sejarah geologi kawasan, termasuk pengaruh jangka panjang dari gempa Liwa pada 1994 yang hingga kini masih menjadi referensi penting studi kegempaan di Lampung bagian barat," jelas Prof Ahmad. (ANTARA)
Baca Juga:Pendaki Asal Bandar Lampung Nyaris Ditelan Rimba Gunung Tanggang