Berbagai macam argumen penolakan ini tidak menyurutkan langkah Pramono Edhie. Pramono Edhie memerintahkan WAKASAD Letjen Budiman untuk melobi pemerintah Jerman.
Ahasil pembelian tank buatan Jerman itu berjalan mulus. Dengan harga Rp 280 juta dolar AS, TNI AD bisa mendapatkan 153 tank leopard langsung dari Jerman.
Jika melalui calo atau agen, hanya bisa mendapat 40 tank leopard dengan harga yang sama. Pada 21 September 2013 tank leopard tiba di Jakarta.
Saat itu Pramono Edhie sudah pensiun dari tentara. Tank itu dibawa ke Markas Divisi 1 Kostrad Cilodong Bogor. Nyatanya jalan-jalan yang dilalui tank leopard tidak rusak. Jembatan yang dilalui tank leopard pun tidak rubuh.
Baca Juga:Sri Mulyani: THR Buat PNS dan TNI-Polri Dicairkan Mulai Besok
Kehadiran main battle tank di Indonesia memperkuat sistem pertahanan. Selama ini Indonesia tidak memiliki main battle tank. Indonesia hanya punya tank-tank ringan berbobot 15 sampai 25 ton.
Tank-tank ini bukan tandingan milik negara tetangga Malaysia. Malaysia memiliki main battle tank PT-91 buatan Polandia. Tank ini tentu bukan tandingan tank-tank ringan Indonesia.
Prajurit kavaleri TNI AD pun sering berkecil hati setiap latihan bersama negara tetangga. Alutsista yang mereka miliki kalah pamor dibanding milik negara tetangga.
Begitu tank leopard hadir, kepercayaan diri Indonesia menjadi tinggi. Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun memamerkan tank leopard pada Hari TNI 5 Oktober 2013.
Kehadiran tank leopard dalam parade militer menjadi primadona. Hadirin yang hadir di acara itu terpesona dengan kehadiran jajaran tank leopard.
Baca Juga:Kapolri: Anak Prajurit KRI Nanggala 402 Bakal Difasilitasi Jadi Polisi
Pramono Edhie ikut hadir di acara itu sebagai purnawirawan. Ia merasa bangga melihat tank leopard melintas di hadapannya.