- KH Said Aqil Siradj merupakan lulusan S2 dan S3 niversitas Umm Al-Qura Mekkah
- Sebagai lulusan Arab Saudi, Kiai Said Aqil tidak mengikuti paham Wahabi
- Menurut dia, ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri Wahabi, tidak dipakai di tempatnya menimba ilmu
SuaraLampung.id - Fenomena alumni Timur Tengah, khususnya dari Arab Saudi, seringkali diasosiasikan dengan pandangan keagamaan yang kaku atau Wahabisme. Namun, stereotip ini runtuh di hadapan sosok karismatik seperti Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj.
Mantan Ketua Umum PBNU yang merupakan lulusan Universitas Umm Al-Qura Mekkah ini, secara blak-blakan mengungkapkan mengapa dirinya, meski jebolan kiblat Islam, tak pernah ‘terkontaminasi’ paham Wahabi.
Dalam wawancara yang dikutip dari dari Youtube Total Politik, Kiai Said Aqil dengan tegas menepis anggapan tersebut.
"Ya karena saya tidak bangga dengan Wahabi," ujarnya santai namun penuh makna. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa materi perkuliahan di level S2 dan S3 di universitasnya sama sekali tidak mengacu pada ajaran Wahabi.
Mengapa? Karena tulisan-tulisan Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri paham Wahabisme, dinilainya tidak relevan untuk kajian ilmiah mendalam.
Seperti diketahui Kiai Said Aqil merupakan lulusan S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama
S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah.
"Tulisan Muhammad bin Abdul Wahab itu kecil-kecil, seperti apalah, seperti surat-surat kiriman gitu," sindir Kiai Said Aqil.
Ia menjelaskan bahwa di jenjang pascasarjana, yang menjadi rujukan adalah "kitab-kitab induk" atau literatur primer yang komprehensif.
Pembahasan di level ini sudah masuk pada kajian ilmiah, perbandingan antar mazhab, hingga perbandingan antar agama. Dalam konteks ini, tulisan Muhammad bin Abdul Wahab, kata Kiai Said, "enggak kepakai."
Baca Juga: Sebut PKS Wahabi, Gus Miftah Ditantang Ketua PKS Lampung Uji Tafsir Alquran di Depan Ulama
Ia kemudian melontarkan analisis yang lebih dalam mengenai mengapa sebagian alumni, terutama di jenjang tertentu, rentan 'terkontaminasi' Wahabi.
"Kebanyakan yang terkontaminasi Wahabi itu S1. (baru) S1 pulang. Belum lengkap (ilmunya)," ungkap pria yang menjabat sebagai Komisaris Utama PT KAI.
Menurut Kiai Said, ada pola psikologis yang menyertai jenjang pendidikan. "Orang kalau S1 sombong-sombongnya kan. Saya paling pintar," tuturnya dengan senyum.
Namun, kesombongan itu mulai luntur di jenjang yang lebih tinggi. "Kalau S2, yang lain juga ada yang pintar. S3, saya yang paling banyak tidak tahu."
"Memang ternyata saya banyak yang enggak tahu kok. Yang saya tahu cuma bidang saya tok," ucapnya. Kiai Said Aqil kemudian merinci bidang keilmuan yang ia kuasai mulai dari filsafat Islam, perbandingan agama, perbandingan mazhab, dan logika. Di luar itu, ia mengaku jujur tidak tahu.
"Komputer, ekonomi enggak tahu saya. Politik enggak ngerti saya," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
Pilihan
-
Babak I Indonesia vs Bangladesh: Garuda Pesta Gol, Mitchell Baker Quattrick
-
Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?
-
Buntut Temuan di Lapas Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mundur dari Jabatan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
Terkini
-
BMW Angkut 50 Kg Sabu Rp50 Miliar Rontok di Bakauheni, 3 Kurir Tergiur Upah Rp300 Juta
-
Musim Kemarau Mengintai, Diskes Bandar Lampung Uji Massal Kualitas Sumur Warga
-
Perluas Akses Kerja bagi Disabilitas, BRI Peduli Gelar Pelatihan dan Pemagangan
-
Bandar Lampung Tertinggi! Beras dan Cabai Jadi Biang Kerok Inflasi di Lampung
-
Bermodal Barcode Sakti Online dan Truk Siluman, Penimbun Solar Subsidi di Balam Diciduk di SPBU