- Kepala BI Lampung Bimo Epyanto memprakirakan inflasi daerah tetap aman pada kisaran 2,5 persen hingga akhir 2026.
- BPS mencatat inflasi tahunan tertinggi pada Agustus 2026 terjadi di Bandar Lampung sebesar 3,86 persen.
- BI dan TPID Lampung mengerahkan strategi 4K untuk meredam gejolak harga serta menjaga pasokan pangan daerah.
SuaraLampung.id - Di tengah riuh rendah pasar dan fluktuasi harga global, masa depan ekonomi Lampung hingga penghujung 2026 kini berada dalam sorotan radar Bank Indonesia (BI).
Di satu sisi, ada optimisme bahwa inflasi tetap akan jinak, namun di sisi lain, badai dari luar dan dalam negeri mulai menunjukkan tanda-tanda siaga.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, tetap memegang kendali optimisme. Ia memprakirakan inflasi Bumi Ruwa Jurai hingga akhir tahun 2026 akan tetap berada di jalur aman, yakni pada rentang sasaran 2,5 persen plus minus satu persen.
Namun, di balik angka-angka stabil tersebut, Bimo memberikan catatan tebal bahwa sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja sepenuhnya.
Baca Juga:Lampung Kunci Pintu Pangan: Puluhan Ton Gabah Dicegat Keluar Provinsi
Inflasi inti menjadi perhatian utama. Tingginya volatilitas harga emas global dan penguatan harga minyak nabati (CPO) dunia menjadi ancaman nyata yang bisa merembet ke dompet masyarakat. Tak hanya itu, ketergantungan pada teknologi juga membawa risiko tersendiri.
"Kenaikan harga komponen chip global di tengah penguatan dolar AS berpotensi mengerek harga barang-barang elektronik," jelas Bimo dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026). Artinya, gadget hingga peralatan rumah tangga bisa jadi bakal menguras kantong lebih dalam.
Beralih ke urusan piring makan, tantangannya tak kalah pelik. Ancaman El Nino yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berisiko mengganggu produksi pangan serta hortikultura.
Ada fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan di sektor pangan yakni persaingan ketat pembelian gabah.
"Adanya persaingan pembelian gabah oleh agen dari luar Lampung berisiko mendorong arus keluar gabah dan mengurangi stok bagi penggilingan lokal," ungkap Bimo.
Baca Juga:Kebakaran Kandang di Way Laga: 17 Kambing Terpanggang Hidup-hidup, Kerugian Tembus Rp300 Juta
Jika pasokan lokal menipis karena dibawa ke luar daerah, harga beras di pasar-pasar Lampung pun berpotensi melonjak.
Belum lagi urusan laut yang tak menentu seperti gelombang tinggi bisa membatasi pasokan ikan, sementara harga daging sapi dibayangi kenaikan biaya distribusi akibat gejolak energi dunia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026 menunjukkan realita di lapangan. Kota Bandar Lampung tercatat sebagai titik panas dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi mencapai 3,86 persen. Disusul oleh Kabupaten Mesuji (3,50%), Kota Metro (3,38%), dan Kabupaten Lampung Timur (2,90%).
Untuk meredam gejolak ini, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Lampung tidak tinggal diam. Mereka mengerahkan strategi "4K" sebagai senjata pamungkas:
- Keterjangkauan Harga agar daya beli tetap terjaga.
- Ketersediaan Pasokan agar stok tidak langka.
- Kelancaran Distribusi untuk memangkas hambatan logistik.
- Komunikasi Efektif guna menjaga ekspektasi masyarakat.
Di ujung tahun yang penuh tantangan ini, BI Lampung mengajak semua pihak waspada terhadap risiko kenaikan BBM dan gangguan distribusi LPG 3 kilogram. (ANTARA)