- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menerapkan strategi hilirisasi jagung untuk menghentikan penjualan hasil panen basah kepada tengkulak pada Rabu, 2 September 2026.
- Pemerintah Provinsi Lampung menyediakan mesin pengering berkapasitas 20 ton serta bahan baku pakan ternak untuk meningkatkan nilai jual petani.
- Penggunaan Pupuk Hayati Cair gratis dicanangkan guna mendongkrak produktivitas lahan hingga mencapai lebih dari 10 ton per hektare.
SuaraLampung.id - Selama puluhan tahun, petani jagung di Lampung sering kali terjebak dalam siklus jual cepat. Begitu panen tiba, jagung dalam kondisi basah langsung dilepas ke tengkulak dengan harga yang sering kali mencekik.
Pemerintah Provinsi Lampung tengah melancarkan strategi besar berupa hilirisasi untuk memastikan jagung petani tidak keluar dari kebun dalam kondisi basah, melainkan sudah diolah untuk memberikan nilai tambah yang nyata.
"Jagung yang dihasilkan di tiap kecamatan harus diupayakan untuk dikeringkan. Jangan dijual basah!" tegas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Rabu (2/9/2026).
Bukan sekadar imbauan, Pemprov Lampung telah menyiapkan mesin pengering (dryer) berkapasitas 20 ton. Fasilitas ini menjadi kunci perubahan.
Baca Juga:Lampung Memikat Amerika: Cuan Jumbo 561 Juta Dolar hingga Kejutan Bahan Kimia
Dengan mengeringkan jagung secara mandiri, petani tidak lagi didikte oleh harga pasar jagung basah yang rendah. Jagung kering memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dan lebih tahan lama untuk disimpan atau diolah.
Visi Gubernur Mirza tidak berhenti pada mesin pengering. Ia membidik rantai nilai yang lebih panjang yakni industri pakan ternak dan peternakan ayam di perdesaan.
Konsepnya, jagung yang sudah dikeringkan akan menjadi bahan baku utama pakan ternak. Pakan ini kemudian disuplai ke peternakan ayam yang dikelola oleh masyarakat desa itu sendiri.
"Pengembangan ini tidak hanya berhenti pada produksi pakan, tetapi berlanjut hingga usaha peternakan ayam di desa-desa. Inilah hilirisasi nyata yang menciptakan nilai tambah bagi petani," tambahnya.
Jika skema ini berjalan mulus, ekonomi desa tidak lagi hanya bergantung pada hasil mentah, melainkan bergerak menjadi pusat pengolahan dan peternakan.
Baca Juga:Drama 45 Menit Evakuasi Korban Terjepit Kabin Ringsek di Candimas Natar
Selain membenahi pascapanen, Pemprov Lampung juga fokus meningkatkan produktivitas lahan. Saat ini, rata-rata lahan di Lampung Selatan menghasilkan 6 hingga 8 ton jagung per hektare. Angka ini dinilai masih bisa meledak hingga lebih dari 10 ton.
Rahasianya terletak pada penggunaan Pupuk Hayati Cair (PHC). Menariknya, program ini direncanakan akan diberikan secara gratis kepada para petani sebagai stimulan.
"Dengan PHC, produktivitas petani dapat meningkat pesat. Program ini sudah teruji di beberapa lokasi," ungkap Mirza.
Bukan tanpa alasan jagung menjadi prioritas utama. Berdasarkan data tahun 2026, produksi jagung Lampung menembus angka 1,25 juta ton dari luas lahan mencapai 194.487 hektare. Nilai ekonominya pun fantastis, menyentuh angka Rp7,58 triliun.
Gubernur menyadari, ketika harga jagung anjlok, denyut nadi ekonomi masyarakat Lampung ikut melemah. Maka, penguatan nilai tambah melalui hilirisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Sukses pada jagung, konsep serupa kini tengah dipersiapkan untuk menyasar komoditas unggulan lainnya seperti padi, kelapa, hingga singkong. (ANTARA)