- Kapolres Lampung Tengah meninjau jembatan vital yang putus sejak Januari pada hari Kamis (13/8/2026).
- Kerusakan jembatan sejak Januari melumpuhkan aktivitas 190 pelajar serta seribu pekerja pabrik dan tenaga medis.
- Polri berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengusulkan pembangunan kembali guna memulihkan akses masyarakat.
SuaraLampung.id - Bagi warga Kampung Tanjung Ratu Ilir dan Kampung Purnama Tunggal, Kecamatan Way Pengubuan, Lampung Tengah, jembatan sepanjang 65 meter itu bukan sekadar struktur beton dan besi.
Selama 50 tahun lebih, ia adalah nadi yang menyambung napas ekonomi dan pendidikan mereka. Namun, sejak Januari lalu, nadi itu terputus, meninggalkan celah menganga yang melumpuhkan aktivitas ribuan orang.
Kamis (13/8/2026), Kapolres Lampung Tengah, AKBP Charles Pandapotan Tampubolon turun langsung ke lapangan meninjau jembatan tersebut.
Jembatan legendaris yang dibangun sejak 1973 tersebut kini tak lagi bisa dilalui sejak Januari lalu. Dampaknya bak efek domino yang memukul segala lini.
Baca Juga:Bara di Anak Tuha: Saat Sengketa Lahan Berujung Pembakaran PT BSA
Tercatat, sedikitnya 190 pelajar dari tingkat SD hingga SMA harus bertaruh waktu dan tenaga setiap harinya. Tak hanya itu, sekitar 1.000 pekerja pabrik yang biasanya menggantungkan mobilisasi pada jembatan ini kini harus menempuh jalan memutar yang melelahkan.
"Keberadaan jembatan ini sangat vital. Ia mampu memangkas waktu perjalanan hingga 45 menit," ujar AKBP Charles.
Tak hanya soal ekonomi dan sekolah, akses layanan kesehatan menuju Puskesmas Pembantu serta aktivitas sosial di SPPG Purnama Tunggal turut tersendat. Hilangnya akses ini membuat jarak yang dekat terasa begitu jauh bagi warga yang membutuhkan pertolongan medis cepat.
Melihat kondisi memprihatinkan tersebut, AKBP Charles menegaskan bahwa Polri tidak akan tinggal diam. Hasil pantauan langsung ini akan segera dilaporkan kepada Kapolda Lampung sebagai bahan evaluasi mendesak.
“Kami sudah melihat langsung kepedihan di lapangan. Jembatan ini adalah urat nadi. Kami akan segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mencari solusi tercepat, termasuk mengusulkan pembangunan kembali agar akses masyarakat normal lagi,” tegasnya.
Baca Juga:Sandiwara Begal Sadis Way Pengubuan Berakhir di Jeruji Besi
Sembari menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah, Kapolres memastikan pihaknya akan terus memantau situasi di sekitar lokasi, terutama terkait keamanan dan pengaturan lalu lintas di jalur-jalur alternatif.
“Yang paling utama saat ini adalah keselamatan masyarakat. Kami akan monitor terus sampai penanganan dilakukan,” pungkasnya.