- Kebiasaan Lebaran bergeser dari kumpul keluarga besar menjadi fokus pada keluarga inti karena faktor kesibukan dan jarak.
- Silaturahmi tetap terjaga melalui adaptasi teknologi seperti telepon video dan pesan singkat meskipun pertemuan fisik berkurang.
- Perubahan ini menandakan transformasi tradisi kumpul Lebaran menjadi lebih sederhana, namun esensi menjaga hubungan tetap utama.
SuaraLampung.id - Lebaran dulu identik dengan satu pemandangan yakni rumah penuh, kursi tak cukup, suara tawa bercampur riuh obrolan dari berbagai generasi. Sepupu jauh, paman, bibi, hingga keluarga yang jarang ditemui, maka semuanya berkumpul dalam satu momen yang terasa hangat dan lengkap.
Namun kini, perlahan suasana itu berubah.
Muncul kebiasaan baru yang seakan semakin sering terdengar seperti “yang penting kumpul keluarga inti saja.” Lebih sederhana, lebih ringkas, tapi juga menimbulkan pertanyaan, yakni apakah tradisi kumpul keluarga besar mulai ditinggalkan?
Rudi (35), warga Bandar Lampung, mengaku Lebaran tahun ini hanya akan dihabiskan bersama istri dan anak-anaknya. “Dulu pasti keliling ke rumah saudara, sekarang lebih pilih di rumah saja. Capek, apalagi anak masih kecil,” katanya.
Baca Juga:Imsak Bandar Lampung 20 Maret 2026: Waktu Sahur Terakhir, Jangan Sampai Terlewat
Menurutnya, bukan berarti hubungan keluarga renggang. Hanya saja, cara merayakannya yang berubah. “Masih saling sapa, tapi lewat video call atau chat,” ujarnya mengungkapkan.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Ada banyak faktor yang mendorong masyarakat memilih kumpul dalam lingkar kecil.
Mulai dari jarak antar keluarga yang semakin jauh, kesibukan kerja, hingga biaya yang tidak sedikit untuk berpindah dari satu rumah ke rumah lain.
Belum lagi kondisi lalu lintas saat Lebaran yang kerap padat, membuat banyak orang berpikir ulang untuk berkeliling. “Sekarang realistis saja. Yang penting tetap silaturahmi, nggak harus fisik semua,” kata Rudi.
Fenomena ini juga terlihat kuat di kalangan generasi muda. Bagi mereka, kebersamaan tidak selalu harus dalam bentuk pertemuan besar.
Baca Juga:Cari Lokasi Salat Id Muhammadiyah di Bandar Lampung? Ini Daftar Lengkap per Wilayah
Nabila (23), misalnya, mengaku lebih nyaman berkumpul dengan keluarga inti. “Lebih santai, lebih dekat. Kalau kumpul besar kadang malah canggung,” katanya.
Ia menilai, kualitas kebersamaan justru lebih terasa ketika lingkarannya lebih kecil.
Fenomena ini dinilai bukan berarti tradisi hilang, melainkan bertransformasi yang dipengaruhi oleh teknologi. Silaturahmi tidak lagi bergantung pada pertemuan fisik namun ada juga video call, ada media sosial yang mengubah cara orang menjaga hubungan,” ujarnya.
Meski lebih praktis, sebagian orang tetap merindukan suasana Lebaran yang dulu, seperti rumah yang penuh, euara ramai tanpa jeda dan kebersamaan yang terasa “utuh”.
Kini, Lebaran mungkin lebih tenang. Tapi bagi sebagian orang, juga terasa lebih sepi. Meski berubah, bukan berarti tradisi kumpul besar benar-benar ditinggalkan.
Masih banyak keluarga yang mempertahankannya, meski tidak sesering dulu. Ada yang menjadwalkan khusus, ada juga yang menggabungkan momen tertentu agar tetap bisa berkumpul.