Pengunjung akan diantar kendaraan khusus yang dikelola oleh masyarakat desa penyangga yakni Desa Labuhanratu VI, Desa Labuhanratu VII dan Desa Labuhanratu IX.
Plt Kepala Balai TNWK Hermawan mengatakan wisata di PLG hanya bisa melihat gajah. Interaksi yang dilakukan dengan gajah hanya sebatas memberi makan, memandikan gajah dan foto bersama gajah.
"Tidak ada lagi atraksi, tidak ada lagi tunggang gajah dan tidak ada lagi kereta gajah. Semua itu di tiadakan karena untuk menerapkan wisata konservasi," jelas Hermawan.
Terkait pengunjung yang akan masuk ke lokasi PLG, pihak desa akan menyiapkan kendaraan dengan sistem antar jemput. Mengenai biaya masuk masih akan dirapatkan oleh masing masing pengurus koperasi desa yang terlibat.
Baca Juga:Kawanan Gajah Liar Rusak Perkebunan di Ngambur, Kerugian Warga Mencapai Rp 1 Miliar
Salah satu pengurus wisata Desa Braja Harjosari, Toni mengaku lebih setuju dengan skema yang diterapkan saat ini karena banyak manfaat positif yang akan dirasakan masyarakat.
Manfaat yang bisa dirasakan masyarakat dengan skema wisata baru TNWK, bisa mendapat keuntungan dari parkir, bisa berjualan di luar PLG, wisata desa lebih mudah dijual oleh pengunjung mancanegara.
"Mudah mudahan skema baru bisa berjalan dan kami bisa mendapat dampak positif setelah 4 tahun lebih TNWK ditutup," ucap Toni.
Kontributor : Agus Susanto
Baca Juga:Badak Jantan Lahir di SRS TNWK, Kondisinya dalam Keadaan Baik