Ada juga "kebiasaan petugas sekolah yang tidak mematuhi" aturan karena pintu ruang dalam dan luar dibiarkan tidak terkunci atau disangga agar terbuka.
Pelaku penembakan dengan mudahnya masuk ke dalam sekolah melalui pintu yang tidak dikunci.
Laporan itu juga menyebut soal sekitar 142 peluru yang ditembakkan pelaku di dalam gedung, bahwa "hampir pasti" sekitar 100 di antaranya ditembakkan sebelum petugas masuk ke sekolah tersebut.
Laporan itu menemukan adanya "kekurangan dan kegagalan" dari pihak distrik sekolah, berbagai instansi dan penegak hukum, serta kurangnya pendekatan di antara pihak berwenang.
Baca Juga:Amerika Serikat Kembali Geger, Penembakan Massal di Mal Indiana Tewaskan 3 Orang
Para siswa di ruang kelas saat penembakan terjadi menelepon 911 dan meminta bantuan.
Namun, laporan itu mengatakan tak seorang pun memastikan bahwa petugas yang membuat keputusan penting mengetahui panggilan darurat itu atau "menerima informasi dari siswa dan guru yang selamat dari serangan awal".
"Tak seorang pun dalam rantai komando menganalisis informasi ini untuk mengetahui bahwa pelaku mencegah korban yang terluka mendapatkan perawatan medis," tulis laporan itu.
Penyelidikan juga menemukan adanya "kewaspadaan yang santai" di sekolah karena peringatan keamanan di sana lebih sering menyangkut kasus penyelundupan imigran.
Video yang diunggah pekan lalu oleh harian Austin American-Statesman menunjukkan bahwa polisi berlindung di lorong selama 77 menit sebelum menyerbu dua kelas yang bersebelahan dan beradu tembak dengan pelaku.
Baca Juga:Lagi-lagi Penembakan Massal Di AS, Pelaku Dan 3 Korban Tewas
Pihak berwenang pada Mei mengatakan anak-anak yang panik di dalam kelas menelepon nomor darurat 911 enam kali ketika para petugas menunggu di lorong.