- BNPB bersama pemda dan instansi memperkuat pemadaman karhutla di TNWK Lampung Timur pada Oktober 2026.
- Pemerintah mengerahkan 360 personel gabungan, helikopter water bombing, penyiraman darat, serta Operasi Modifikasi Cuaca.
- Petugas menghadapi kendala lahan bergambut, angin kencang, dan keterbatasan sumber air yang menyulitkan akses pemadaman.
Selain pemadaman langsung, penanganan karhutla diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca. Dalam keterangan yang disampaikan BNPB, operasi tersebut menggunakan pesawat Cessna Caravan untuk penyemaian natrium klorida (NaCl) atau garam.
BNPB melaporkan penyemaian dilakukan dalam dua sortie penerbangan, dengan penggunaan masing-masing 1.000 kilogram garam di wilayah TNWK dan Kabupaten Lampung Barat.
OMC merupakan upaya untuk mendukung peluang terjadinya hujan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Namun, operasi ini tidak menjamin hujan akan turun di seluruh wilayah sasaran atau langsung memadamkan seluruh titik api.
Dalam laporan Pemerintah Provinsi Lampung mengenai operasi pada 11–13 Oktober 2026, OMC dilakukan melalui tiga sortie dengan total penggunaan 3.000 kilogram NaCl. Pelaksanaan lanjutan saat itu terkendala tidak tersedianya awan potensial yang memenuhi persyaratan penyemaian.
Data tersebut merujuk pada operasi pada periode berbeda. Karena itu, pelaksanaan OMC perlu dievaluasi bersama perkembangan cuaca, kondisi titik api, dan hasil pemadaman di lapangan.
Data Hotspot Harus Dicocokkan dengan Kondisi Lapangan
BNPB menekankan pentingnya mengintegrasikan hasil pemantauan udara, laporan tim darat, data titik panas atau hotspot, dan informasi cuaca dari BMKG.
Kombinasi data tersebut dibutuhkan untuk menentukan lokasi prioritas pemadaman, terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas.
Dalam laporan Pemerintah Provinsi Lampung pada 25 Oktober 2026, Kepala BNPB menyebut pemantauan satelit hingga pukul 06.44 WIB mendeteksi 110 titik api di Provinsi Lampung, dengan sekitar 68 hektare area dilaporkan masih belum padam.
Baca Juga: 24 Hari Membara, 30 Hektare Hutan Way Kambas Masih Mengepulkan Asap
Angka tersebut merupakan laporan pada waktu pemantauan tertentu dan mencakup wilayah Provinsi Lampung, bukan hanya kawasan TNWK. Data itu juga perlu dibedakan dari jumlah hotspot yang terdeteksi satelit, karena titik panas merupakan indikasi yang perlu diverifikasi dengan kondisi aktual di lapangan.
Pencocokan data menjadi penting agar sumber daya pemadaman dapat diarahkan ke lokasi yang benar-benar membutuhkan penanganan.
Selain mengancam kawasan konservasi, kebakaran juga menimbulkan asap yang berdampak pada permukiman di sekitar TNWK. Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan pemeriksaan kesehatan bagi warga terdampak asap akan menjadi perhatian, khususnya untuk mengetahui dampak paparan terhadap pernapasan dan kondisi paru-paru.
Langkah tersebut penting karena penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Warga yang mengalami gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan setelah terpapar asap perlu mencari bantuan tenaga kesehatan. Masyarakat juga disarankan mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan resmi dari pemerintah daerah.
Di tengah upaya pemadaman, pemerintah juga berencana mengevaluasi penyebab kebakaran, khususnya pada titik-titik yang berada di sekitar permukiman.
Berita Terkait
-
24 Hari Membara, 30 Hektare Hutan Way Kambas Masih Mengepulkan Asap
-
Titik Api Kepung Way Kambas, Pemprov Lampung Gempur Karhutla Lewat Operasi Udara dan Pasukan Darat
-
Kebakaran Lahan Pecah di Dua Titik Strategis Lampung, Gubernur Rilis Instruksi Tegas
-
Akhiri Teror Puluhan Tahun, Benteng Gajah 138 Km Way Kambas Siap Diresmikan Prabowo
-
Karhutla Mengamuk di Way Kambas hingga Dekati Kandang Gajah, Bagaimana Nasib Satwa Langka Ini?
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Keluarga Polisi Dihantam Tragedi: Avanza Ringsek di Tol Lampung, 6 Orang Tewas Seketika
-
Sempat Buron Setahun, Pengeroyok Panitia Futsal Kampus UM Metro Akhirnya Diciduk
-
Kejar-kejaran Dramatis Berujung Patah Tulang! Pelarian Residivis Maling Gadget di Pringsewu Berakhir
-
Numpang Tidur Seminggu, Cucu di Tulang Bawang Malah Embat Motor dan HP Kakek Sendiri
-
Orang Dalam Berkhianat! Eks Satpam Dalangi Pencurian Kabel Rp480 Juta di Lampung Tengah