- Penduduk Desa Tejang di Lampung Selatan menderita sesak napas akibat hujan abu vulkanik selama tiga hari sejak 17 Agustus 2026.
- PVMBG melaporkan Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga dengan lontaran abu mencapai 400 meter di atas puncak pada Senin.
- Pemerintah menetapkan zona merah dua kilometer dari kawah serta melarang nelayan dan wisatawan mendekati area berbahaya tersebut.
SuaraLampung.id - Di saat warga di berbagai penjuru negeri merayakan kemerdekaan pada 17 Agustus kemarin, penduduk Desa Tejang di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, justru harus mengalami sesak di dada.
Penyebabnya abu vulkanik kiriman dari Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda tak kunjung berhenti menghujani pemukiman.
Sudah tiga hari terakhir, udara di pulau yang letaknya paling dekat dengan gunung api aktif di Selat Sunda ini tak lagi ramah.
Butiran debu vulkanik yang halus namun tajam mulai membuat warga tidak nyaman. Warga mulai mengeluhkan mata yang perih hingga nafas yang terasa berat dan pendek.
"Abu vulkanik sudah turun sejak tiga hari ini. Banyak warga yang mengeluh sesak nafas," ujar Sekretaris Desa Tejang, Riko Iswanto.
Kebutuhan akan masker kini menjadi urgensi yang mendesak. Di tengah kepungan debu, warga berharap bantuan segera datang sebelum gangguan kesehatan ini berubah menjadi krisis pernapasan yang lebih serius.
Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Senin (17/8/2026), mencatat gunung ini "batuk" sebanyak 20 kali dalam sehari.
Lontaran abu vulkaniknya membubung hingga 400 meter di atas puncak, atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut.
Angin kemudian membawa material berbahaya ini melintasi perairan, hingga akhirnya mendarat di teras-teras rumah dan paru-paru warga Pulau Sebesi.
Baca Juga: Drama Begal Boneka Labubu Berakhir Malu: Remaja Jati Agung Dibui Buat Laporan Palsu
Saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih tertahan di Level III (Siaga). Artinya, potensi ancaman bisa datang kapan saja.
Di Pos Pantau Hargopancuran, Suwarno dan timnya bekerja tanpa henti. Mata mereka tak lepas dari layar monitor dan lensa teropong selama 24 jam penuh.
Meski hari ini aktivitas visual tak seintens kemarin, namun detak jantung sang gunung, yang terekam dalam alat kegempaan, masih menunjukkan fluktuasi yang nyata.
"Aktivitas kegempaan dan hembusan masih terekam. Ini indikator kuat bahwa proses vulkanik di dalam sana masih berlangsung," jelas Suwarno, Selasa (18/8/2026).
Pemerintah telah menetapkan zona merah dalam radius dua kilometer dari kawah. Nelayan dan wisatawan dilarang keras mendekat. Di perairan yang biasanya ramai oleh perahu pencari ikan, kini diselimuti kewaspadaan tinggi.
Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian ini, warga tak hanya harus melawan abu, tapi juga potensi hoaks yang kerap berhembus lebih kencang dari erupsi itu sendiri. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mempercayai informasi resmi dari PVMBG atau Badan Geologi. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Drama Begal Boneka Labubu Berakhir Malu: Remaja Jati Agung Dibui Buat Laporan Palsu
-
Tangisan Balita Mengungkap Kematian Tragis Seorang Ayah di Jati Agung
-
Drama Tengah Malam di Perairan Krakatau: 4 Nelayan Selamat Usai 7 Jam Terombang-ambing
-
Misteri 2 Jasad Anonim di Lampung Selatan, Ini Ciri-cirinya
Terpopuler
- 4 Bedak Tabur Waterproof yang Tidak Mudah Luntur Saat Hujan
- Link Download Tema dan Logo HUT TNI 2026 Resmi dari Mabes TNI
- 3 Rekomendasi Sepatu Lokal Sol Empuk Aman untuk Hujan-hujanan, Anti Licin
- 3 Cara Cek BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak Lewat HP, Tak Perlu ke Kantor
- Bagaimana Cara Mengetahui Feng Shui Kita? Kenali Kua Number dan Cara Menghitungnya
Pilihan
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
Terkini
-
Perkuat Inklusi Keuangan, BRILink Agen di Kawasan Perairan Terpencil Layani 80 Transaksi per Hari
-
Tol Lematang-Panjang Bakal Jadi Jalur Urat Nadi Industri dan Ekspor Lampung
-
Kabur saat Digeledah di Bakauheni, Pria Pembawa Senjata Serbu AR-15 Diciduk di Loteng Ruang Guru
-
Kurang dari 12 Jam, Pembantai Satu Keluarga di Tulang Bawang Tewas Ditembak Polisi
-
Tiga Bocah SD Pringsewu Ditemukan Tewas Tenggelam di Bendungan Widara Payung