Wakos Reza Gautama
Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:48 WIB
Sejumlah warga di Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan mengeluhkan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Penduduk Desa Tejang di Lampung Selatan menderita sesak napas akibat hujan abu vulkanik selama tiga hari sejak 17 Agustus 2026.
  • PVMBG melaporkan Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga dengan lontaran abu mencapai 400 meter di atas puncak pada Senin.
  • Pemerintah menetapkan zona merah dua kilometer dari kawah serta melarang nelayan dan wisatawan mendekati area berbahaya tersebut.

SuaraLampung.id - Di saat warga di berbagai penjuru negeri merayakan kemerdekaan pada 17 Agustus kemarin, penduduk Desa Tejang di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, justru harus mengalami sesak di dada.

Penyebabnya abu vulkanik kiriman dari Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda tak kunjung berhenti menghujani pemukiman.

Sudah tiga hari terakhir, udara di pulau yang letaknya paling dekat dengan gunung api aktif di Selat Sunda ini tak lagi ramah.

Butiran debu vulkanik yang halus namun tajam mulai membuat warga tidak nyaman. Warga mulai mengeluhkan mata yang perih hingga nafas yang terasa berat dan pendek.

"Abu vulkanik sudah turun sejak tiga hari ini. Banyak warga yang mengeluh sesak nafas," ujar Sekretaris Desa Tejang, Riko Iswanto.

Kebutuhan akan masker kini menjadi urgensi yang mendesak. Di tengah kepungan debu, warga berharap bantuan segera datang sebelum gangguan kesehatan ini berubah menjadi krisis pernapasan yang lebih serius.

Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Senin (17/8/2026), mencatat gunung ini "batuk" sebanyak 20 kali dalam sehari.

Lontaran abu vulkaniknya membubung hingga 400 meter di atas puncak, atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut.

Angin kemudian membawa material berbahaya ini melintasi perairan, hingga akhirnya mendarat di teras-teras rumah dan paru-paru warga Pulau Sebesi.

Baca Juga: Drama Begal Boneka Labubu Berakhir Malu: Remaja Jati Agung Dibui Buat Laporan Palsu

Saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih tertahan di Level III (Siaga). Artinya, potensi ancaman bisa datang kapan saja.

Di Pos Pantau Hargopancuran, Suwarno dan timnya bekerja tanpa henti. Mata mereka tak lepas dari layar monitor dan lensa teropong selama 24 jam penuh.

Meski hari ini aktivitas visual tak seintens kemarin, namun detak jantung sang gunung, yang terekam dalam alat kegempaan, masih menunjukkan fluktuasi yang nyata.

"Aktivitas kegempaan dan hembusan masih terekam. Ini indikator kuat bahwa proses vulkanik di dalam sana masih berlangsung," jelas Suwarno, Selasa (18/8/2026).

Pemerintah telah menetapkan zona merah dalam radius dua kilometer dari kawah. Nelayan dan wisatawan dilarang keras mendekat. Di perairan yang biasanya ramai oleh perahu pencari ikan, kini diselimuti kewaspadaan tinggi.

Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian ini, warga tak hanya harus melawan abu, tapi juga potensi hoaks yang kerap berhembus lebih kencang dari erupsi itu sendiri. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mempercayai informasi resmi dari PVMBG atau Badan Geologi. (ANTARA)

Load More