Wakos Reza Gautama
Senin, 05 Oktober 2026 | 17:28 WIB
Warga Pringsewu geger penemuan tiga bocah dalam kondisi meninggal dunia di Bendungan Widara Payung, Pekon Podomoro, Kecamatan Pringsewu, Senin (5/10/2026) siang. [Dok Humas Polres Pringsewu]
Baca 10 detik
  • Tiga siswa SD ditemukan meninggal dunia karena tenggelam di Bendungan Widara Payung, Pringsewu, pada Senin (5/10/2026).
  • Warga dan aparat kepolisian berhasil mengevakuasi seluruh jasad korban setelah sengaja membuka pintu air bendungan tersebut.
  • Polsek Pringsewu Kota menyatakan kematian korban adalah murni kecelakaan dan mengimbau orang tua memperketat pengawasan anak.

SuaraLampung.id - Keceriaan anak-anak bermain air di Bendungan Widara Payung, Pekon Podomoro, Kecamatan Pringsewu, berujung duka mendalam pada Senin (5/10/2026) siang. Tiga bocah sekolah dasar (SD) ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di pusaran air bendungan tersebut.

Ketiga korban yang meregang nyawa teridentifikasi sebagai Zainul (7) dan Dafa Alfarezel (8), keduanya warga Pekon Podosari, Pringsewu, serta Khoirul Imam (8), warga Pekon Sinar Baru, Kecamatan Sukoharjo.

Tragedi memilukan ini pertama kali disadari oleh dua remaja yang hendak menyeberangi kawasan bendungan sekitar pukul 12.30 WIB.

Langkah keduanya terhenti saat melihat seonggok kain merah mengambang di permukaan air. Curiga, mereka mendekat dan tersentak menyadari kain tersebut adalah tubuh seorang anak laki-laki.

Remaja tersebut lantas berlari sejauh 100 meter menuju permukiman warga untuk berteriak meminta pertolongan. Warga yang berdatangan segera mengevakuasi korban pertama, yakni Zainul, yang saat itu mengenakan kaus merah dan celana abu-abu.

Kecurigaan bahwa musibah ini menelan lebih dari satu korban bermula saat warga menyisir bantaran bendungan. Di tepi genangan air, petugas dan warga mendapati tiga pasang sandal anak-anak berjajar rapi ditinggalkan pemiliknya.

Sadar masih ada dua bocah lain yang terjebak di dasar perairan, warga bersama aparat kepolisian segera membuka pintu air bendungan untuk menyurutkan permukaan air secara drastis.

Kekhawatiran itu terbukti benar. Sekitar satu jam berselang, jasad korban kedua, Dafa Alfarezel, berhasil ditemukan di balik surutnya air.

Tak lama kemudian, tepatnya pukul 13.42 WIB, tubuh korban terakhir, Khoirul Imam, yang mengenakan kemeja biru bergaris, ditemukan dalam kondisi serupa.

Baca Juga: Ibu di Tanggamus Syok Pergoki Kakek 69 Tahun Cabuli Anaknya di Kamar, Terkuak Aksi Bejat Tahunan

Ketiga jasad korban langsung dievakuasi ke Puskesmas Pringsewu guna pemeriksaan medis awal sebelum akhirnya diserahkan ke pelukan keluarga masing-masing untuk dimakamkan. Pihak keluarga menyatakan ikhlas dan menolak dilakukan autopsi.

Kapolsek Pringsewu Kota, AKP Ramon Zamora, mewakili Kapolres Pringsewu AKBP Dadi Perdana Putra, mengonfirmasi dugaan sementara kematian ketiga korban murni akibat kecelakaan tenggelam saat bermain di luar pantauan orang dewasa.

"Dugaan awal ketiga korban meninggal dunia akibat tenggelam. Kami masih mengumpulkan keterangan saksi untuk memastikan kronologi utuhnya," terang AKP Ramon.

Belajar dari insiden tragis ini, kepolisian melayangkan imbauan tegas kepada para orang tua agar memperketat pengawasan terhadap aktivitas luar ruang anak-anak, terutama di sekitar objek perairan rawan bencana seperti bendungan, aliran irigasi, dan sungai berarus deras.

"Jangan biarkan anak-anak bermain di tepi perairan tanpa didampingi orang dewasa, terlebih bila mereka belum mahir berenang. Kedalaman dan debit arus bendungan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa aba-aba. Jangan sampai kelengahan kita berbuah penyesalan seumur hidup," pungkas Ramon.

Load More