Wakos Reza Gautama
Senin, 17 Agustus 2026 | 10:48 WIB
Ilustrasi Pembunuhan. Warga bernama Lison tewas ditikam oleh KM di Mesuji Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026. [Antara]
Baca 10 detik
  • Warga bernama Lison tewas ditikam oleh KM di Mesuji Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
  • Penusukan terjadi ketika korban berniat mendamaikan perselisihan keluarga terkait keterlambatan pulang kerja Supri.
  • Pelaku melarikan diri setelah kejadian, dan Polres Mesuji kini sedang memburu keberadaan KM tersebut.

SuaraLampung.id - Malam Minggu di pemukiman Paguyuban Register 45, Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, pecah oleh teriakan minta tolong yang memilukan. Niat baik untuk mendamaikan perselisihan keluarga justru berakhir dengan genangan darah dan nyawa yang melayang.

Lison, seorang warga setempat, tak pernah menyangka bahwa langkah kakinya menuju rumah Marila pada Sabtu (15/8/2026) malam pukul 21.30 WIB, akan menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya.

Segalanya bermula dari masalah sederhana. Supri, putra dari Marila, pulang terlambat setelah seharian bekerja mencabut singkong.

Sang ibu yang khawatir justru marah besar, tak percaya alasan anaknya yang mengaku terlambat karena menunggu upah dan diajak makan oleh sang majikan.

Demi meyakinkan ibunya, Supri menjemput Lison, sosok yang ia anggap sebagai saksi kunci kebenarannya. Lison yang dikenal baik hati pun setuju untuk membantu menjelaskan duduk perkara kepada Marila.

Namun, takdir berkata lain. Lison yang mengendarai motor lebih dulu tiba di rumah Marila. Di sana, ia berpapasan dengan KM, kakak laki-laki Marila sekaligus besan dari korban sendiri.

"Sabar Mang, aku lagi nyusuin anak," sahut Marila dari dalam rumah saat mendengar Lison memanggil namanya.

Namun di luar, situasi memanas. KM yang entah mengapa merasa terusik, bertanya dengan nada tajam, "Kenapa kamu cari adik aku?".

Lison dengan tenang menjawab bahwa ia hanya ingin menjelaskan perihal pekerjaan Supri. Namun, jawaban itu tak cukup bagi KM. Sebilah senjata tajam pun bicara.

Baca Juga: Gara-gara Tuduhan Curi Sawit, Nyawa Satpam Way Kanan Melayang di Tangan Tetangga

"Tolong Aku, Mar..." Marila yang masih di dalam rumah terperanjat mendengar teriakan pilu, "Tolong aku Mar, aku ditujah KM!".

Saat ia berlari ke luar, pemandangan horor tersaji. Lison memegangi dada sebelah kirinya yang bersimbah darah. KM, yang gelap mata, bahkan sempat mengancam akan membunuh Marila jika ia berani menolong. Namun, naluri kemanusiaan Marila lebih kuat. Ia tetap menghampiri Lison yang sudah limbung.

Tak lama kemudian, Supri tiba. Dengan panik, ia menaikkan Lison ke atas motor untuk dilarikan ke rumah sakit. Di tengah kegelapan jalanan Register 45 yang sunyi, suasana makin mencekam.

"Aku sudah gak kuat lagi, Pri..." bisik Lison lirih.

Tubuhnya yang lemas tak lagi mampu bertahan di atas boncengan. Lison terjatuh. Supri yang tak sanggup menggendong korban sendirian terpaksa meninggalkan Lison di pinggir jalan demi menjemput bantuan keluarga lainnya.

Namun sayang, saat mereka kembali, Lison sudah mengembuskan napas terakhirnya di dinginnya aspal jalanan. Ia tewas karena kehabisan darah sebelum sempat menyentuh meja ruang gawat darurat.

Load More