Wakos Reza Gautama
Senin, 17 Agustus 2026 | 08:55 WIB
Tim ahli konservasi internasional bersama Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra meninjau langsung percepatan pembangunan sarana dan prasarana kawasan konservasi di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Delegasi internasional dan ahli lingkungan meninjau Taman Nasional Way Kambas untuk mewujudkan pusat konservasi gajah bertaraf dunia.
  • Pembangunan fasilitas baru seperti menara pandang dan skywalk dirancang untuk mendukung edukasi wisata tanpa mengusik habitat gajah.
  • Transformasi kawasan ini juga berfokus pada peningkatan kesejahteraan satwa serta penerapan sistem mitigasi konflik manusia dan gajah.

SuaraLampung.id - Sebuah proyek besar tengah berdenyut di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur. Misinya menyejajarkan rumah bagi Elephas maximus sumatranus ini dengan standar konservasi global.

Delegasi internasional dari Elephant Nature Park (ENP) Thailand, Saengduean Chailert, bersama tim ahli Wilderness dari PT Living Landscapes Indonesia, turun langsung menembus jantung TNWK.

Kehadiran mereka untuk memastikan transformasi Way Kambas berjalan di jalur yang tepat, sebagai pusat konservasi gajah bertaraf dunia.

Nantinya akan ada sebuah menara pandang yang terintegrasi dengan skywalk tinggi, membelah kanopi hutan. Fasilitas ini bukan sekadar pemanis visual, melainkan strategi untuk memberikan pengalaman edukasi bagi wisatawan tanpa harus mengusik privasi dan habitat asli gajah.

Inilah wajah baru Way Kambas. Pembangunan dipercepat, namun dengan prinsip kehati-hatian yang tinggi. Fokusnya bukan lagi sekadar memindahkan gajah, melainkan menjamin kesejahteraan mereka. Fasilitas air bersih yang melimpah dan tempat tinggal yang layak kini menjadi prioritas utama.

"Kami memastikan setiap jengkal pembangunan sarana ini tetap memegang prinsip konservasi dan standar lingkungan yang ketat," ujar Brigjen TNI Sriyanto, Ketua Komite Gabungan Mitigasi Gajah Sumatra TNWK.

Bagi Sriyanto, transformasi ini adalah kerja keroyokan lintas pihak. Kehadiran tim ahli dari Thailand dan internasional menjadi cermin betapa seriusnya Indonesia memposisikan diri di mata dunia dalam urusan penyelamatan satwa endemik.

Budayawan Lampung, Ansori Djausal, mengingatkan bahwa Way Kambas adalah simbol keberhasilan konservasi tanah air. Dahulu, pada awal 1980-an, kawasan ini hanyalah bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang gundul dan terluka.

Namun lewat kebijakan visioner, area ini disulap menjadi taman nasional. Sejarah mencatat tahun 1986 sebagai tonggak Tata Liman, sebuah upaya heroik penyelamatan gajah yang menjadi fondasi apa yang kita lihat sekarang.

Baca Juga: Jembatan Garuda Merah Putih di Way Bungur Jadi Harapan Baru Masyarakat

"Way Kambas bukan hanya soal gajah, tapi soal bagaimana kita mengubah bekas lahan industri menjadi warisan dunia yang lestari," kata Ansori.

Transformasi TNWK juga menyasar masalah klasik yakni konflik antara manusia dan gajah. Melalui sistem mitigasi berlapis dan pelibatan masyarakat sekitar, Way Kambas ingin membuktikan bahwa manusia dan gajah bisa hidup berdampingan.

Pos-pos pantau kini tak hanya berfungsi sebagai pengawas, tapi juga menjadi laboratorium pembelajaran bagi warga desa penyangga.

Pemerintah menargetkan Way Kambas tidak hanya menjadi benteng terakhir perlindungan gajah Sumatra, tetapi juga menjadi model integrasi antara kelestarian alam, ilmu pengetahuan, pariwisata edukatif, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. (ANTARA)

Load More