Wakos Reza Gautama
Rabu, 30 September 2026 | 16:46 WIB
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat melaksanakan Gerakan Tanam Padi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) serentak seluruh Indonesia, di Kelurahan Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, Rabu (30/9/2026). [Dok Humas Pemprov Lampung]
Baca 10 detik
  • Pemerintah menerapkan teknologi PM-AAS di Lampung pada September 2026 yang berhasil melipatgandakan hasil panen padi dari 5 ton menjadi 11,2 ton per hektare.
  • Transformasi digital dan mekanisasi pertanian tersebut bertujuan memangkas biaya operasional serta meningkatkan margin keuntungan bagi para petani di Lampung.
  • Keberhasilan program ini memperkuat ketahanan pangan nasional dengan stok aman selama sepuluh bulan ke depan tanpa ketergantungan impor beras.

SuaraLampung.id - Sektor pertanian Indonesia bersiap melakukan lompatan besar. Penerapan teknologi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Provinsi Lampung terbukti berhasil mendobrak kebuntuan produktivitas padi nasional yang mandek selama belasan tahun, melipatgandakan hasil panen dari rata-rata 5 ton menjadi 11,2 ton per hektare.

Keberhasilan tersebut menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mengunci ketahanan pangan mandiri tanpa bergantung pada impor beras selama 10 bulan ke depan, sekaligus memuluskan proyeksi Badan Pangan Dunia (FAO) yang menempatkan Indonesia di jajaran empat besar produsen beras dunia pada 2026.

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menegaskan bahwa transformasi digital dan mekanisasi melalui PM-AAS ini dirancang bukan sekadar untuk bergaya membawa mesin baru ke tengah sawah, melainkan untuk memangkas biaya operasional dan mempertebal margin keuntungan petani.

"PM-AAS tidak boleh dimaknai sekadar pamer alat modern di sawah. Esensi utamanya adalah efisiensi biaya produksi (cost efficiency), produktivitas yang melesat berlipat ganda, dan tentu saja keuntungan bersih yang jauh lebih tebal untuk kantong para petani kita," tegas Wagub Jihan dalam agenda Gerakan Tanam Padi Serentak di Kelurahan Yosomulyo, Metro Pusat, Rabu (30/9/2026).

Bagi Lampung, sektor agraris adalah jantung perekonomian. Wagub membeberkan bahwa dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah yang melampaui Rp500 triliun, hampir 28 persen disumbang oleh pertanian, dengan serapan tenaga kerja mencapai 44 persen dari total populasi.

Tahun lalu saja, Lampung mencatatkan produksi fantastis 3,2 juta ton padi yang menempatkan provinsi ini sebagai lumbung surplus beras nasional.

Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Regulasi dan Reformasi Birokrasi, Tin Latifah, memaparkan fakta krusial di balik adopsi teknologi ini.

Sejak 2010, produktivitas padi Indonesia terbelenggu pada angka stagnan 5,0 hingga 5,3 ton per hektare akibat tantangan iklim ekstrem dan pola tani konvensional.

"Kita butuh lompatan radikal, berpikir di luar kebiasaan. Di Lampung Tengah, uji coba PM-AAS seluas 100 hektare berhasil memanen rata-rata 11 hingga 12 ton per hektare. Ini bukti nyata di lapangan, bukan angan-angan di atas kertas," ungkap Tin Latifah.

Baca Juga: Modus Baru! Pura-pura Jogging Pagi, Residivis di Bandar Lampung Gasak Motor yang Lagi Dipanaskan

Kementan menargetkan implementasi PM-AAS mencakup 1 juta hektare secara nasional pada 2026 dan diperluas menjadi 3 juta hektare pada 2027.

Khusus Provinsi Lampung, Kementan mengalokasikan lahan seluas 35.100 hektare, dengan percepatan tanam bulan September sebesar 2.500 hektare yang diproyeksikan siap panen raya pada Desember hingga Januari mendatang guna mengamankan pasokan awal tahun 2027.

Tin menambahkan, cadangan beras nasional saat ini berada dalam posisi paling kokoh.

"Stok aman hingga 10 bulan ke depan. Ketika stok melimpah, keran impor ditutup, dan harga beras di pasar domestik langsung stabil. Kita buktikan Indonesia berdaulat pangan," tambahnya lugas.

Untuk menjamin ekosistem modern ini berjalan mulus tanpa kendala teknis, Pemprov Lampung bersama Kementan mengunci integrasi dari hulu ke hilir seperti menyalurkan pupuk hayati cair, menyediakan mesin pengering gabah (bed dryer), menggandeng BUMDes/Koperasi guna memutus rantai tengkulak, hingga berkoordinasi intensif dengan PLN dan BBWS guna memastikan pasokan listrik mekanisasi serta irigasi air mengalir tanpa henti.

Load More