Wakos Reza Gautama
Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:52 WIB
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan bahwa adanya Satelit Lampung-1 dapat menghadirkan data yang dapat memperkuat tata kelola pemerintahan di wilayahnya agar lebih modern. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Provinsi Lampung menjalin kerja sama dengan STAR.VISION Aerospace dan BRIN untuk meluncurkan Satelit Lampung-1.
  • Satelit mutakhir tersebut dijadwalkan meluncur dari lepas pantai Shandong, Tiongkok, pada 5 Agustus 2026 mendatang.
  • Teknologi hyperspectral dan kecerdasan buatan pada satelit berfungsi mengawasi wilayah Lampung tanpa membebani APBD.

SuaraLampung.id - Selama puluhan tahun, memantau luasnya hamparan sawah, kesehatan hutan, hingga titik rawan bencana di Provinsi Lampung adalah pekerjaan yang melelahkan.

Para petugas harus turun ke lapangan, menembus belantara, dan memakan waktu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan sekeping data yang sering kali sudah kedaluwarsa saat sampai di meja pengambilan keputusan.

Namun, era manual itu akan segera berakhir. Pemerintah Provinsi Lampung bersiap melakukan lompatan besar menuju luar angkasa.

Pada 5 Agustus 2026 mendatang, sejarah baru akan terukir di lepas pantai Shandong, Tiongkok. Sebuah satelit mutakhir bernama Satelit Lampung-1 dijadwalkan meluncur membelah atmosfer.

Bukan sekadar benda terbang, satelit ini adalah "mata digital" yang akan mengawasi setiap jengkal Bumi Ruwa Jurai dari orbitnya.

Mengapa Lampung-1 begitu istimewa? Jawabannya ada pada teknologi Hyperspectral dan Artificial Intelligence (AI) yang diusungnya.

Jika citra satelit biasa hanya memberikan gambaran visual, teknologi hyperspectral mampu "membaca" apa yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

"Keputusan yang baik harus lahir dari data yang akurat," ujar Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Senin (2/8)/2026. "Lampung-1 akan membantu kita melihat kondisi daerah secara lebih cepat, lebih luas, dan lebih presisi."

Dengan kecanggihan ini, satelit mampu mendeteksi kesehatan tanaman padi milik petani sebelum mereka menyadari adanya serangan hama.

Baca Juga: Mimpi Cuan 7 Kali Lipat dari Dubai Berujung Apes, Uang Rp60 Juta Milik Warga Bandar Lampung Amblas

Ia bisa menghitung kepadatan kendaraan di jalur mudik, memantau kualitas air sungai secara real-time, hingga mendeteksi pembangunan liar di kawasan lindung tanpa perlu mengirim personel ke lokasi.

Satu hal yang paling mencengangkan dari proyek futuristik ini adalah skema pembiayaannya. Di tengah kekhawatiran publik soal anggaran daerah, Gubernur Mirza menegaskan bahwa operasional Satelit Lampung-1 sama sekali tidak menggunakan APBD.

Satelit ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemerintah Provinsi Lampung, STAR.VISION Aerospace, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kepemilikan aset tetap berada di tangan STAR.VISION, namun Pemprov Lampung memegang kendali penuh atas pemanfaatan data teknologinya.

"Ini adalah bukti bahwa transformasi digital daerah bisa diwujudkan melalui kemitraan strategis tanpa harus membebani keuangan daerah," tegas Mirza.

Inovasi ini tidak hanya soal mesin dan kabel di ruang angkasa. Gubernur Mirza sadar bahwa teknologi secanggih apa pun akan sia-sia tanpa SDM yang mumpuni.

Load More