- Polres Pringsewu membongkar praktik ilegal pengoplosan BBM bersubsidi di Kecamatan Sukoharjo pada Rabu, 20 Mei 2026.
- Tiga pelaku memodifikasi kendaraan untuk menimbun dan mencampur minyak mentah dengan zat pewarna kimia berbahaya.
- Polisi menyita 800 liter BBM ilegal serta sedang memburu satu tersangka lain untuk mengungkap jaringan distribusi tersebut.
SuaraLampung.id - Selama tiga tahun terakhir, sebuah rahasia gelap tersimpan rapat di balik dinding-dinding rumah warga di Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu.
Di sana, bukan sekadar tempat tinggal biasa, melainkan pusat sirkulasi bahan bakar minyak (BBM) ilegal yang terhubung dengan jaringan besar asal Palembang.
Tabir gelap itu akhirnya tersingkap pada Rabu (20/5/2026). Tim gabungan Unit Tipidter dan Tekab 308 Satreskrim Polres Pringsewu melakukan serangan mendadak yang berhasil membongkar tiga lokasi penampungan sekaligus "laboratorium" pengoplosan BBM.
Kejahatan ini tidak dilakukan secara amatir. Para pelaku, yakni Rudi Saptono (38), Mustolihudin (47), dan Catur Hermanto (40), menggunakan siasat yang sangat rapi untuk mengelabui sistem pengawasan SPBU.
Dengan menggunakan kendaraan yang tangkinya telah dimodifikasi, mereka menguras solar subsidi dan Pertalite menggunakan beraneka ragam barcode MyPertamina dan pelat nomor polisi palsu.
"Mereka memindahkan BBM dari tangki mobil ke jeriken secara berulang, lalu menyimpannya di gudang sebelum diedarkan kembali dengan harga tinggi," ungkap Kapolres Pringsewu, AKBP M. Yunus Saputra, saat konferensi pers, Jumat (22/5/2026).
Temuan paling mengerikan ada di sebuah gudang di Pekon Panggungrejo Utara. Polisi menemukan ratusan jeriken, tandon raksasa, mesin pompa, hingga alat ukur hidrometer. Namun, yang paling mencolok adalah temuan bubuk pewarna kimia.
Di lokasi ini, minyak mentah diduga disulap sedemikian rupa menggunakan zat pewarna agar menyerupai Pertalite asli.
Cairan oplosan ini kemudian didistribusikan ke pengecer atau Pertamini, mempertaruhkan kesehatan mesin kendaraan milik masyarakat demi keuntungan pribadi.
Baca Juga: Pemprov Lampung Tebar Rp35 Miliar untuk Karpet Beton dan Aspal Baru Jalan di Pringsewu
"Kami menemukan alat pengoplosan dan cairan yang diduga kuat adalah Pertalite hasil campuran minyak mentah dan zat pewarna," tambah Kasat Reskrim Iptu Rosali.
Dalam operasi ini, polisi menyita 800 liter BBM subsidi yang masih murni serta berbagai bukti pendukung lainnya. Meski jumlah yang diamankan terlihat besar, polisi meyakini ribuan liter lainnya sudah lebih dulu beredar di pasar selama tiga tahun terakhir.
Kapolres AKBP M. Yunus Saputra menegaskan pihaknya kini tengah melakukan analisis keuangan untuk menelusuri aliran dana dan keterlibatan pihak lain, termasuk kemungkinan "permainan" oknum di SPBU.
"Kami tidak akan berhenti di sini. Kami ingin menekan peredaran BBM ilegal di seluruh Pringsewu. Kami juga mengimbau pemilik Pertamini agar mengambil suplai dari jalur resmi. Jangan beli BBM oplosan yang merugikan rakyat," tegasnya.
Kini, Rudi, Mustolihudin, dan Catur terancam merayakan tahun-tahun mendatang di balik jeruji besi dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. Sementara itu, satu rekan mereka berinisial D telah ditetapkan sebagai DPO dan tengah diburu oleh tim buser.
Berita Terkait
-
Pemprov Lampung Tebar Rp35 Miliar untuk Karpet Beton dan Aspal Baru Jalan di Pringsewu
-
Kedok Penimbun Solar di Pringsewu Terbongkar Saat Sopir Sedang Nyedot BBM
-
Dapat Beasiswa Malah Bikin Onar, 3 Pelajar Sudan di Pringsewu Diciduk Imigrasi Bandar Lampung
-
Siasat Mafia Solar di Bandar Lampung: Gunakan 36 Plat Nomor Palsu Kuras 5 Ton BBM Subsidi Sehari
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Keruk Batubara RI Tapi Sumbang Rp1,7 T ke Singapura, Eks Kepala BKPM Sentil Bos Bayan Resources
- Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
BRI Rekrut 133 Alumni Magang Nasional 2025, Dorong Talenta Muda Berkembang
-
Semen Baturaja Dukung Sertifikasi 100 Tenaga Kerja Konstruksi di Lampung Selatan
-
BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun di Tengah Fluktuasi Pasar Modal
-
Pabrik Ekstasi Rumahan di Tulang Bawang Digerebek Polisi: Kontrakan Disulap Jadi Lab Narkoba
-
Belantara Way Kambas Membara: 350 Personel Terjang Sungai dan Hutan Lebat Jinakkan Titik Api