- Dua warga menemukan jenazah anak perempuan di Desa Rangai Tri Tunggal, Lampung Selatan, pada Jumat pagi, 22 Mei 2026.
- Jenazah ditemukan bersama surat pengakuan keluarga yang tidak mampu membiayai pemakaman akibat kemiskinan dan kondisi penyakit diabetes.
- Polsek Katibung mengevakuasi jasad ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk keperluan identifikasi serta penyelidikan lebih lanjut oleh tim INAFIS.
SuaraLampung.id - Jumat (22/5/2026) pagi yang tenang di Desa Rangai Tri Tunggal, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, mendadak berubah mencekam.
Di samping Masjid Babusallam, sebuah pemandangan tak biasa menghentikan langkah dua warga yang melintas sekitar pukul 05.30 WIB. Sebuah bungkusan kardus yang terikat rapi, tertutup kain putih bersih, tergeletak bisu di pinggir jalan.
Awalnya, Sarman Butar-Butar (66) dan Siti Aisah (40) hanya mengira itu adalah kiriman barang yang tertinggal. Namun, kecurigaan yang menyeruak membuat mereka melapor ke aparatur desa.
Saat disingkap perlahan, sembilu seolah menusuk hati siapa pun yang melihatnya. Sepasang kaki mungil menyembul dari balik kain putih itu.
Pihak kepolisian dari Polsek Katibung yang tiba di lokasi segera mengamankan area. Saat bungkusan itu dibuka sepenuhnya, terbaringlah sosok anak perempuan tanpa identitas, diperkirakan berusia 11 hingga 13 tahun. Ia tak lagi bernapas, wajahnya tenang namun menyimpan misteri yang menyayat hati.
Bukan hanya jenazah dingin yang ditemukan petugas di dalam kain penutup itu. Di sisinya, terdapat sebuah plastik berisi sisa obat-obatan dan sepucuk surat pendek yang ditulis dengan tangan gemetar.
Surat itu adalah sebuah pengakuan dosa sekaligus potret kemiskinan yang ekstrem. Di dalamnya, pihak keluarga menuliskan bahwa sang anak menderita penyakit diabetes.
Paragraf berikutnya lebih menyesakkan: keluarga memohon maaf karena terpaksa meninggalkan jenazah sang buah hati di pinggir jalan lantaran keterbatasan biaya untuk memakamkannya secara layak.
"Ini benar-benar memilukan. Ada obat-obatan dan surat yang menjelaskan kondisi korban serta permohonan maaf dari keluarganya karena tidak mampu secara ekonomi," ungkap seorang petugas di lokasi.
Baca Juga: Viral Penemuan Mayat Anak Ditutupi Kardus di Rangai, Ditemukan Sepucuk Surat yang Isinya Bikin Miris
Kapolsek Katibung, IPTU Dita Hidayatullah, menyatakan bahwa pihaknya bergerak cepat untuk mengidentifikasi siapa sosok bocah malang ini.
Jenazah telah dievakuasi menggunakan ambulans Puskesmas Katibung menuju Rumah Sakit Bhayangkara untuk proses visum dan identifikasi lebih lanjut oleh tim INAFIS.
“Begitu menerima laporan, personel segera mengamankan TKP untuk menjaga status quo. Saat ini kami fokus mengumpulkan keterangan saksi dan berkoordinasi dengan rumah sakit untuk mengungkap identitas korban dan latar belakang peristiwa ini,” ujar IPTU Dita.
Kabar penemuan ini pun dengan cepat menyebar, memicu gelombang simpati dari masyarakat. Banyak yang tak menyangka, di balik megahnya bangunan atau sibuknya jalanan, masih ada keluarga yang begitu terjepit kemiskinan hingga tak sanggup memberikan penghormatan terakhir bagi darah dagingnya sendiri.
Kini, polisi masih berupaya mencari tahu siapa orang tua di balik surat permohonan maaf tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Ngamuk Cuma Diberi Rp10 Ribu, Pria Bermasker Hantam Kepala Nenek 71 Tahun di Lampung Barat
-
Modal Obeng, Pemuda 20 Tahun Gasak Mobil Teman Sendiri di Kemiling Demi Gaya Hidup
-
Dobrak Mitos Ketinggian! Lampung Sukses Tanam Arabika di 800 MDPL: Berbuah Kilat Cuma 1,8 Tahun
-
3 Calon Rektor Unila Lolos ke Final: Dr Budiyono Memimpin, Suara Menteri 35 Persen Jadi Penentu
-
Niat Cari Madu, Petani Pesawaran Temukan Kerangka Manusia di Tebing 1.150 MDPL