Wakos Reza Gautama
Sabtu, 23 Mei 2026 | 12:05 WIB
Warga Desa Rangai Tri Tunggal, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan digegerkan dengan penemuan jenazah seorang anak perempuan tanpa identitas di pinggir jalan samping Masjid Babusallam, Jumat (22/5/2026) pagi. [Dok Humas Polres Lampung Selatan]
Baca 10 detik
  • Dua warga menemukan jenazah anak perempuan di Desa Rangai Tri Tunggal, Lampung Selatan, pada Jumat pagi, 22 Mei 2026.
  • Jenazah ditemukan bersama surat pengakuan keluarga yang tidak mampu membiayai pemakaman akibat kemiskinan dan kondisi penyakit diabetes.
  • Polsek Katibung mengevakuasi jasad ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk keperluan identifikasi serta penyelidikan lebih lanjut oleh tim INAFIS.

SuaraLampung.id - Jumat (22/5/2026) pagi yang tenang di Desa Rangai Tri Tunggal, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, mendadak berubah mencekam.

Di samping Masjid Babusallam, sebuah pemandangan tak biasa menghentikan langkah dua warga yang melintas sekitar pukul 05.30 WIB. Sebuah bungkusan kardus yang terikat rapi, tertutup kain putih bersih, tergeletak bisu di pinggir jalan.

Awalnya, Sarman Butar-Butar (66) dan Siti Aisah (40) hanya mengira itu adalah kiriman barang yang tertinggal. Namun, kecurigaan yang menyeruak membuat mereka melapor ke aparatur desa.

Saat disingkap perlahan, sembilu seolah menusuk hati siapa pun yang melihatnya. Sepasang kaki mungil menyembul dari balik kain putih itu.

Pihak kepolisian dari Polsek Katibung yang tiba di lokasi segera mengamankan area. Saat bungkusan itu dibuka sepenuhnya, terbaringlah sosok anak perempuan tanpa identitas, diperkirakan berusia 11 hingga 13 tahun. Ia tak lagi bernapas, wajahnya tenang namun menyimpan misteri yang menyayat hati.

Bukan hanya jenazah dingin yang ditemukan petugas di dalam kain penutup itu. Di sisinya, terdapat sebuah plastik berisi sisa obat-obatan dan sepucuk surat pendek yang ditulis dengan tangan gemetar.

Surat itu adalah sebuah pengakuan dosa sekaligus potret kemiskinan yang ekstrem. Di dalamnya, pihak keluarga menuliskan bahwa sang anak menderita penyakit diabetes.

Paragraf berikutnya lebih menyesakkan: keluarga memohon maaf karena terpaksa meninggalkan jenazah sang buah hati di pinggir jalan lantaran keterbatasan biaya untuk memakamkannya secara layak.

"Ini benar-benar memilukan. Ada obat-obatan dan surat yang menjelaskan kondisi korban serta permohonan maaf dari keluarganya karena tidak mampu secara ekonomi," ungkap seorang petugas di lokasi.

Baca Juga: Viral Penemuan Mayat Anak Ditutupi Kardus di Rangai, Ditemukan Sepucuk Surat yang Isinya Bikin Miris

Kapolsek Katibung, IPTU Dita Hidayatullah, menyatakan bahwa pihaknya bergerak cepat untuk mengidentifikasi siapa sosok bocah malang ini.

Jenazah telah dievakuasi menggunakan ambulans Puskesmas Katibung menuju Rumah Sakit Bhayangkara untuk proses visum dan identifikasi lebih lanjut oleh tim INAFIS.

“Begitu menerima laporan, personel segera mengamankan TKP untuk menjaga status quo. Saat ini kami fokus mengumpulkan keterangan saksi dan berkoordinasi dengan rumah sakit untuk mengungkap identitas korban dan latar belakang peristiwa ini,” ujar IPTU Dita.

Kabar penemuan ini pun dengan cepat menyebar, memicu gelombang simpati dari masyarakat. Banyak yang tak menyangka, di balik megahnya bangunan atau sibuknya jalanan, masih ada keluarga yang begitu terjepit kemiskinan hingga tak sanggup memberikan penghormatan terakhir bagi darah dagingnya sendiri.

Kini, polisi masih berupaya mencari tahu siapa orang tua di balik surat permohonan maaf tersebut.

Load More