Wakos Reza Gautama
Rabu, 06 Mei 2026 | 14:40 WIB
Ilustrasi PGE Ulubelu. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Ulubelu menegaskan gempa magnitudo 2,4 yang terjadi di wilayah Ulubelu, Kabupaten Tanggamus pada 2 Mei 2026 merupakan aktivitas tektonik alami dan tidak terkait dengan operasional panas bumi. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Gempa magnitudo 2,4 mengguncang wilayah Ulubelu, Tanggamus, pada 2 Mei 2026 akibat aktivitas tektonik alami yang umum terjadi.
  • PT Pertamina Geothermal Energy menegaskan bahwa operasional panas bumi tidak terkait dengan guncangan yang dirasakan oleh masyarakat setempat.
  • Data BMKG menyatakan wilayah tersebut memiliki aktivitas tektonik tinggi karena berada di jalur pertemuan tiga sistem geologi besar.

SuaraLampung.id - Ketika bumi Ulubelu, Tanggamus, berguncang pada magnitudo 2,4 pada 2 Mei 2026 lalu, spekulasi mulai bermunculan di tengah masyarakat.

Di wilayah yang kaya akan potensi energi panas bumi ini, pertanyaan besar muncul, apakah aktivitas industri di bawah tanah menjadi pemicunya?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Ulubelu secara tegas memastikan bahwa guncangan tersebut adalah fenomena tektonik alami yang tidak memiliki kaitan dengan operasional panas bumi perusahaan.

General Manager PGE Area Ulubelu, Edy Sudarmadi, menegaskan bahwa operasional panas bumi dijalankan dengan standar keselamatan yang amat ketat. Setiap jengkal pengeboran didasarkan pada kajian mendalam dari sisi geologi, geofisika, hingga geokimia.

“Kami pastikan gempa yang terjadi di Ulubelu tidak terkait dengan operasional PGE. Seluruh proses kami dilengkapi sistem pemantauan berkelanjutan, termasuk monitoring mikro-seismik untuk memastikan aktivitas tetap di batas aman,” ujar Edy dalam keterangan resminya, Rabu (6/5/2026).

Secara ilmiah, wilayah Sumatera bagian selatan memang merupakan salah satu titik paling "gelisah" di peta geologi Indonesia.

Terletak di jalur Ring of Fire, kawasan ini dikepung oleh interaksi tiga sistem raksasa yaitu Zona Subduksi Sunda, Sesar Sumatera (Segmen Semangko), dan struktur geologi Selat Sunda.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat hal ini. Sepanjang Januari hingga April 2026 saja, tercatat ada 62 kejadian gempa di wilayah Sumatera bagian selatan dan Selat Sunda dengan magnitudo bervariasi.

“Gempa yang dirasakan masyarakat kemarin adalah karakteristik gempa dangkal yang umum terjadi di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi. Ini adalah proses alami pelepasan energi akibat pergerakan kerak bumi,” tambah Edy.

Baca Juga: Kado Pahit di Hari Kebebasan: Baru Keluar Penjara, TIW Langsung Diciduk Lagi di Depan Gerbang Rutan

Satu fakta penting yang perlu diketahui publik adalah perbandingan energi. Secara fisik, energi yang dihasilkan dari aktivitas geothermal jauh lebih kecil dan terlokalisasi dibandingkan dengan energi masif yang dilepaskan oleh pergeseran lempeng tektonik. Itulah sebabnya, operasional panas bumi secara ilmiah tidak mampu memicu gempa tektonik yang dirasakan secara luas.

PGE Area Ulubelu pun mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terombang-ambing oleh informasi yang belum terverifikasi.

Perusahaan terus melakukan pemantauan secara real-time dan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memastikan operasional tetap andal tanpa mengabaikan aspek lingkungan.

Di balik uap panas bumi yang dikonversi menjadi energi bersih untuk Lampung, ada sistem pengawasan berlapis yang menjaga agar "napas bumi" tetap selaras dengan keselamatan warga di sekitarnya.

“Operasional kami tetap berjalan aman. Kami mengajak masyarakat tetap tenang dan memercayakan informasi pada sumber-sumber resmi,” pungkas Edy. (ANTARA)

Load More