- Ekonomi Provinsi Lampung tumbuh sebesar 5,58 persen pada Triwulan I 2026 dan menjadi tertinggi kedua di Sumatera.
- Bank Indonesia berhasil menjaga stabilitas inflasi serta meningkatkan daya beli masyarakat melalui kebijakan kenaikan Upah Minimum Provinsi.
- Pemerintah mendorong hilirisasi komoditas strategis pertanian serta pengembangan sektor akomodasi, makan, dan minum untuk mendongkrak kesejahteraan daerah.
SuaraLampung.id - Provinsi Lampung tengah menunjukkan taringnya sebagai raksasa ekonomi baru di Pulau Sumatera. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi Sang Bumi Ruwa Jurai pada Triwulan I 2026 mencapai angka impresif 5,58 persen, menempatkannya sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di seluruh Sumatera.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Achmad P Subarkah, menegaskan bahwa tren positif ini diprediksi akan terus berlanjut. BI memproyeksikan ekonomi Lampung akan tetap stabil dan kokoh di rentang 5,00 hingga 5,60 persen ke depannya.
Lantas, apa saja mesin penggerak di balik performa gemilang ini? Salah satu pondasi utama keberhasilan ini adalah kemampuan Lampung dalam menjinakkan inflasi. Saat ini, angka inflasi terjaga dengan manis di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen, selaras dengan target nasional.
"Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) juga menjadi angin segar yang langsung berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat," ujar Achmad, Rabu (6/5/2026).
BI juga menyoroti pentingnya perubahan strategi di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi tulang punggung daerah.
Program hilirisasi komoditas strategis kini menjadi fokus utama agar petani tidak lagi sekadar menjual produk mentah.
"Kami mendukung penuh hilirisasi. Selama ini petani menjual mentah saat panen, padahal nilai tambah terbesar ada pada proses pengolahannya. Jika hilirisasi jalan, kesejahteraan petani Lampung akan melompat jauh," tambahnya.
Selain pertanian, sektor perdagangan eceran tercatat tumbuh pesat berkat momentum Lebaran dan Imlek. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah lonjakan drastis di sektor akomodasi, makan, dan minum yang tumbuh mencapai 12,43 persen.
Angka ini membuktikan bahwa Lampung kini telah bertransformasi menjadi magnet wisata, khususnya wisata kuliner. Transformasi ini dianggap sebagai momentum emas yang harus dijaga agar roda ekonomi terus berputar kencang. (ANTARA)
Baca Juga: Tiga Hari Hilang Misterius, Penyelam Panah Ikan di Way Rarem Ditemukan Tak Bernyawa
Berita Terkait
-
Tiga Hari Hilang Misterius, Penyelam Panah Ikan di Way Rarem Ditemukan Tak Bernyawa
-
Senjata Begal Macet Saat Tembak Pemilik Motor di Bengkel Sukabumi
-
Ribuan Orang di Lampung Lepas Status Pengangguran, Tren Kerja Full-Time Melonjak
-
Zaki Tak Ada Lagi di Dek Kapal: Pencarian 20 Mil Laut di Selat Sunda Masih Nihil
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Lampung Melesat di Peringkat 2 Sumatera! BI Prediksi Ekonomi Terus Ngegas Hingga Akhir 2026
-
Tiga Hari Hilang Misterius, Penyelam Panah Ikan di Way Rarem Ditemukan Tak Bernyawa
-
Benarkah Operasional Panas Bumi Picu Gempa? PGE Ulubelu Buka Suara Soal Guncangan di Tanggamus
-
Senjata Begal Macet Saat Tembak Pemilik Motor di Bengkel Sukabumi
-
Ribuan Orang di Lampung Lepas Status Pengangguran, Tren Kerja Full-Time Melonjak