- SMP Negeri 1 Bandar Lampung berdiri tahun 1946 di Tanjungkarang sebagai upaya merintis pendidikan formal pascakemerdekaan Indonesia.
- Sekolah ini mengalami proses perpindahan lokasi berkali-kali sebelum akhirnya menetap di kawasan Rawa Laut pada tahun 1954.
- Pemerintah membagi institusi menjadi SMP Negeri 1 dan 2 pada 1955 untuk memeratakan akses pendidikan masyarakat setempat.
SuaraLampung.id - Bayangkan sebuah masa di mana pendidikan adalah kemewahan yang diperjuangkan di tengah puing-puing pascakemerdekaan.
Di Lampung, tepatnya di sudut-sudut Tanjungkarang, gema proklamasi 1945 bukan hanya membawa kedaulatan politik, tetapi juga menyalakan pelita di ruang-ruang kelas yang sangat sederhana.
Inilah kisah tentang bagaimana SMP Negeri 1 Bandar Lampung bermula dari sebuah cita-cita kecil dengan fasilitas yang nyaris tak ada.
Dikutip dari buku "Sejarah Pendidikan Daerah Lampung" terbitan Depdikbud, cikal bakal lahirnya SMPN 1 Bandar Lampung dimulai pada tahun 1946.
Di bawah kepemimpinan Bapak Gunung Tua, sebuah sekolah swasta bernama SMP Merdeka berdiri menumpang di gedung SD Xaverius Tanjungkarang daerah Pasir Gintung. Seiring dinamika zaman, namanya sempat berubah menjadi SMP Federal.
Jangan bayangkan ribuan siswa seperti sekarang. Saat itu, sekolah ini hanya memiliki dua kelas dengan total 40 murid. Perjuangannya pun tak mudah. Butuh waktu empat tahun bagi sekolah ini untuk bisa meluluskan angkatan pertamanya.
Pada tahun 1950, sejarah mencatat hanya ada enam orang lulusan pertama yang berhasil menuntaskan ujian akhir.
Seperti musafir, sekolah ini berkali-kali berpindah tempat mencari "rumah" yang permanen. Pernah menempati Sekolah Arjuna di Jalan Pejajaran, hingga singgah di bekas gedung kolonial Europeesche Lagera School di kawasan Bambu Kuning pada tahun 1950.
Barulah pada tahun 1954, atas gotong royong dan bantuan masyarakat, sebuah gedung baru untuk SMPN 1 Bandar Lampung berdiri di kawasan Rawa Laut.
Baca Juga: Menata Sungai yang Tercekik: Strategi Kementerian PU Selamatkan Bandar Lampung dari Banjir
Namun, jangan bayangkan tembok beton yang kokoh. Gedung itu hanyalah bangunan lima lokal dengan dinding gribik (anyaman bambu), tiang-tiang dari kayu bulat, dan beratapkan genteng sederhana. Di sinilah, di bawah kepemimpinan Bapak Isya Abbas, fondasi pendidikan menengah Lampung diletakkan.
Dinamika pendidikan semakin kencang. Pada tahun 1953, berdiri pula Sekolah Guru Bawah (SGB) untuk memenuhi haus akan tenaga pendidik.
Berkat tangan dingin Residen Lampung legendaris, Zainal Abidin Pagaralam, serta dukungan militer dari Resort Militer 43 Garuda Hitam, fasilitas pendidikan di Rawa Laut terus berkembang.
Tahun 1955 menjadi tonggak sejarah baru. Kepentingan pendidikan yang mendesak membuat pemerintah secara resmi memecah institusi ini menjadi dua yakni SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2. Bekas gedung SGB di Rawa Laut diserahkan kepada SMP Negeri 2.
SMPN 1 dan SMPN 2 sempat berada di satu lokasi karena kondisi gedung SMPN 1 yang hampir ambruk. Tahun 1957, sebuah gedung baru kembali dibangun untuk SMP 1 di Rawa Laut.
Sejarah kemudian melengkapi dirinya pada tahun 1962, ketika SGB dihapus dan bertransformasi menjadi SMP III. Sejak saat itu, Tanjungkarang resmi memiliki "Tiga Pilar" sekolah menengah negeri yang menjadi kiblat pendidikan bagi generasi muda Lampung.
Tag
Berita Terkait
-
Menata Sungai yang Tercekik: Strategi Kementerian PU Selamatkan Bandar Lampung dari Banjir
-
Dikira Kebakaran, Ternyata Pencuri Lagi 'Masak' Kabel: Pemuda di Bandar Lampung Apes Digerebek Warga
-
Jejak Licin Spesialis 15 TKP: Sempat Lolos dari Kepungan Warga, Pelarian MS Berakhir di Tangerang
-
Meja FGD Membara Saat Eva Dwiana Skakmat BBWS dan Sentil Kampus Darmajaya Soal Banjir
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Mimpi Cuan 7 Kali Lipat dari Dubai Berujung Apes, Uang Rp60 Juta Milik Warga Bandar Lampung Amblas
-
Temukan Senpi dan Narkoba, Polisi Ringkus Remaja 16 Tahun di Way Kanan
-
Pengiriman 75 Ribu Bibit Sawit Palsu Digagalkan di Bandara Radin Inten II
-
Enam Hari Menembus Ombak: ABK yang Hilang di Perairan Pulau Kelagian Akhirnya Ditemukan
-
18 Nyawa Melayang di Usia Emas: Petaka Human Error di Jalan Raya Pringsewu Tembus 115 Kasus