Wakos Reza Gautama
Jum'at, 03 April 2026 | 09:48 WIB
Ilustrasi ribuan buruh pabrik dari Jabodetabek salah satu pemicu kepadatan di Pelabuhan Bakauheni pada mudik Lebaran 2026. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Dinas Perhubungan Lampung mengevaluasi penumpukan pemudik buruh pabrik asal Jabodetabek di Pelabuhan Bakauheni yang terjadi pada Maret 2026.
  • Pemerintah mendorong perusahaan menyediakan bus mudik gratis guna meminimalisir kesulitan akses transportasi lanjutan bagi pemudik pejalan kaki.
  • Penerapan kebijakan cuti fleksibel dan Work From Anywhere diusulkan tahun 2027 untuk mencegah penumpukan penumpang melalui distribusi arus.

SuaraLampung.id - Evaluasi besar-besaran terhadap pelaksanaan Angkutan Lebaran 2026 baru saja dimulai, namun mata Pemerintah Provinsi Lampung sudah tertuju jauh ke depan.

Salah satu poin krusial yang menjadi catatan merah adalah gelombang pemudik dari sektor pekerja pabrik di kawasan Jabodetabek yang kerap "menumpuk" di waktu bersamaan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Lampung, Bambang Sumbogo, menegaskan bahwa pola kepulangan ribuan karyawan pabrik menuju Pulau Sumatera harus diantisipasi lebih matang pada musim mudik 2027 mendatang.

Belajar dari pengalaman Maret 2026, keterlambatan jadwal libur buruh menjadi salah satu pemicu utama kepadatan di Pelabuhan Bakauheni.

Bambang mencatat, penumpukan signifikan terjadi di Pelabuhan Bakauheni karena sebagian besar karyawan pabrik baru mendapatkan izin libur pada 18 Maret. Akibatnya, ribuan orang tumpah ruah secara bersamaan dalam satu gelombang besar.

"Ternyata kontribusi pekerja pabrik dari Jabodetabek sebagai pemudik ini sangat besar dan perlu kita antisipasi ke depan. Kami butuh koordinasi lebih awal terkait jadwal libur mereka agar kami di pelabuhan jauh lebih siap," ujar Bambang, Kamis (2/4/2026).

Satu hal yang menjadi perhatian khusus Dishub adalah karakteristik para pekerja ini yang mayoritas adalah pemudik pejalan kaki.

Setelah turun dari kapal, mereka masih harus berjuang mencari bus dan angkutan lanjutan, yang seringkali merepotkan dan memicu kesemrawutan di simpul transportasi.

Menyikapi hal tersebut, Bambang melontarkan solusi konkret. Ia mendorong agar perusahaan-perusahaan besar di Jabodetabek tidak hanya melepas karyawannya begitu saja, tetapi juga memfasilitasi mudik gratis menggunakan bus khusus yang langsung mengantar hingga ke titik tujuan atau minimal terminal utama.

Baca Juga: Rekor 1 Juta Kendaraan: Rahasia di Balik 'Zero Fatality' Tol Bakter Selama Mudik Lebaran 2026

"Kami menyarankan agar pabrik-pabrik memfasilitasi mudik gratis dengan bus. Ini jauh lebih nyaman bagi mereka karena tidak perlu sambung-menyambung kendaraan, yang jujur saja, cukup merepotkan bagi pemudik pejalan kaki," ucapnya.

Selain fasilitas bus gratis, Dishub Lampung juga berharap pemerintah pusat tetap mempertahankan kebijakan Work From Anywhere (WFA) dan pengaturan cuti bersama yang lebih fleksibel pada 2027. Kebijakan ini dinilai efektif sebagai instrumen "pemecah ombak" arus mudik.

"Dengan libur yang lebih panjang dan kebijakan WFA, pemudik dan pemilir bisa terdistribusi menjadi beberapa gelombang perjalanan. Ini sangat membantu kami mencegah terjadinya penumpukan di simpul-simpul transportasi utama, terutama di Lampung," pungkas Bambang. (ANTARA)

Load More