- Riza Kurniawan dilaporkan hilang terseret arus deras Sungai Rantau Tijang, Pringsewu, sejak hari Minggu, 5 April 2026 sore.
- Tim SAR gabungan melakukan pencarian intensif menggunakan perahu karet, alat selam, hingga perangkat Aqua Eye di sepanjang sungai.
- Hingga hari ketiga pencarian pada Selasa, 7 April 2026, korban belum ditemukan dan operasi terus diperluas ke hilir.
SuaraLampung.id - Langit di atas Desa Penengahan, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pringsewu, tampak cerah dalam dua hari terakhir. Namun, bagi keluarga Riza Kurniawan (28), cuaca tersebut tak mampu menghalau mendung gelap yang menyelimuti hati mereka.
Hingga hari ketiga pencarian, Selasa (7/4/2026), sosok pemuda itu masih raib, tertelan oleh keganasan arus Sungai Rantau Tijang.
Tragedi ini bermula pada Minggu sore (5/4/2026), sekitar pukul 16.30 WIB. Riza, yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di sawah, hendak menyeberangi sungai untuk kembali ke rumah. Tak ada tanda-tanda bahaya yang kasatmata saat itu, hingga tiba-tiba "kiriman" air dari hulu datang mengamuk.
Debit air sungai meningkat drastis dalam sekejap. Arus yang semula tenang berubah menjadi jeram yang mematikan. Riza, yang terjebak di tengah aliran, tak kuasa melawan kekuatan alam dan terseret hilang dari pandangan saksi mata.
Baca Juga:Cerita Pilu 4 Sahabat di Wira Garden: Dua Selamat, Dua Lainnya Ditemukan Tewas di Pulau Pasaran
Laporan kehilangan itu segera menggerakkan mesin penyelamatan. Tim Rescue dari Pos SAR Tanggamus menerjang perjalanan dua jam di tengah kegelapan malam demi melakukan assessment awal.
Namun, jarak pandang yang terbatas dan faktor keselamatan memaksa tim menghentikan pencarian sementara pada malam pertama.
Memasuki hari kedua, strategi diperketat. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI/Polri, hingga relawan dan warga setempat, membelah kekuatan menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU).
“Tim SAR gabungan terus berupaya maksimal dengan menyisir titik-titik yang dicurigai, termasuk memperluas area pencarian ke hilir hingga kawasan jembatan menuju Bendungan Way Mada,” ungkap Wakil Komandan Pos SAR Tanggamus, Tri Wardoyo.
Peralatan canggih pun dikerahkan. Selain perahu karet dan perlengkapan selam, tim menggunakan Aqua Eye, sebuah perangkat pendeteksi bawah air, untuk mencari keberadaan korban di balik keruhnya dasar sungai.
Baca Juga:7 Fakta Kemacetan Parah di Bakauheni, Truk Antre Panjang Lumpuhkan Jalinsum hingga Tol
Meski penyisiran darat dan air dilakukan secara intensif sejauh berkilo-kilometer, Sungai Rantau Tijang seolah masih enggan memberikan jawaban. Hingga matahari terbenam pada hari kedua, pencarian masih nihil.
Pada operasi hari ketiga ini, fokus tim dialihkan pada titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi tersangkutnya korban, seperti pusaran air dan rimbunnya vegetasi di sepanjang bantaran sungai menuju hilir.