- Fenomena "Lebaran yatim" dialami mereka yang merayakan Idulfitri tanpa kehadiran orang tua, memicu kesedihan mendalam pasca kehilangan.
- Momen Lebaran menjadi pemicu emosional kuat atau *grief trigger* bagi yang kehilangan orang tua, meski tradisi tetap dijaga.
- Meski sedih, individu berusaha melanjutkan tradisi seperti memasak atau berziarah sebagai bentuk mengenang dan menerima perubahan kondisi.
Di media sosial, mulai banyak yang berbagi cerita serupa yakni tentang kursi kosong di ruang tamu, tentang suara yang tak lagi terdengar, hingga tentang rindu yang tak bisa dituntaskan.
Dengan bercerita, seseorang merasa tidak sendirian. Itu penting untuk proses pemulihan.
Di balik kesedihan, ada makna yang perlahan tumbuh.
Lebaran tidak lagi hanya tentang kebahagiaan yang terlihat, tetapi juga tentang kekuatan untuk menerima, mengenang, dan melanjutkan hidup.
Baca Juga:Imsak Bandar Lampung 20 Maret 2026: Waktu Sahur Terakhir, Jangan Sampai Terlewat
“Sekarang Lebaran buat saya lebih ke doa,” kata Rina. “Bukan cuma minta maaf, tapi juga kirim doa buat orang tua," sambungnya.
Tak semua Lebaran penuh tawa. Bagi sebagian orang, hari raya justru menjadi momen paling sunyi. Namun satu hal yang tidak pernah berubah: cinta kepada orang tua tetap hidup, meski mereka telah tiada.
Dalam doa. Dalam kenangan. Dan dalam setiap Lebaran yang dijalani dengan cara yang berbeda.