Wakos Reza Gautama
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:25 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia Perwakilan Lampung menjaga kenaikan harga pangan bergejolak di bawah lima persen hingga akhir 2026. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia Perwakilan Lampung menjaga kenaikan harga pangan bergejolak di bawah lima persen hingga akhir 2026.
  • Lampung mencatatkan deflasi 0,49 persen pada Juli 2026 akibat penurunan harga bawang merah dan cabai dari panen raya.
  • BI Lampung mengantisipasi ancaman puncak El Nino melalui Strategi 4K untuk mengendalikan inflasi dan menjaga pasokan pangan.

SuaraLampung.id - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung kini tengah memasang pagar pelindung agar harga bahan pokok tidak melompat liar, memastikan piring makan warga tetap terisi tanpa harus menguras kantong lebih dalam.

Fokusnya menjaga kenaikan harga kelompok pangan bergejolak (volatile food) agar tidak menembus angka lima persen hingga penghujung 2026.

"Ekonomi Lampung di triwulan II 2026 menunjukkan performa yang tangguh. Namun, kita harus tetap waspada terhadap risiko global," ujar Fiskara Indawan, Ekonom Senior BI Perwakilan Lampung, Jumat (7/8/2026).

Bagi BI, inflasi bukan sekadar angka di atas kertas. Ia adalah penentu tingkat kemiskinan dan daya beli rakyat. Itulah sebabnya, perhatian ekstra diberikan pada tiga komoditas keramat yang kerap membuat ibu rumah tangga pening yakni beras, aneka cabai, dan bawang merah.

Ketiga komoditas ini dipantau siang dan malam melalui kerja sama erat dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Tujuannya memastikan pasokan tetap mengalir deras ke pasar-pasar tradisional hingga ritel modern.

Kabar baiknya, pada Juli 2026 lalu, Lampung mencatatkan deflasi sebesar 0,49 persen. Turunnya harga bawang merah dan cabai menjadi pahlawan di balik angka tersebut, berkat panen raya di sentra produksi seperti Brebes dan Kulon Progo yang menjaga stok tetap aman.

Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Musuh besar bernama El Nino diprediksi mencapai puncaknya pada akhir tahun.

Curah hujan yang rendah mengancam produktivitas lahan pertanian, yang jika dibiarkan, bisa memicu lonjakan harga pangan.

Menghadapi ancaman ini, BI Lampung tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan Strategi 4K sebagai garis pertahanan:

Baca Juga: Niat Bantu Teman, Motor Buruh di Bandar Lampung Malah Jadi Jaminan Utang

  1. Keterjangkauan Harga: Memastikan harga tetap masuk akal bagi warga.
  2. Ketersediaan Pasokan: Menjamin stok pangan tidak hilang dari peredaran.
  3. Kelancaran Distribusi: Memastikan jalur pangan dari sawah ke pasar tidak terhambat.
  4. Komunikasi Efektif: Mengelola ekspektasi masyarakat agar tidak terjadi panic buying.

"Kami tidak ingin harga naik melampaui batas maksimal. Penurunan harga di Juli kemarin adalah modal bagus yang harus kita jaga," tambah Fiskara. (ANTARA)

Load More