Wakos Reza Gautama
Jum'at, 07 Agustus 2026 | 07:44 WIB
Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Provinsi Lampung pada tahun 2026 tumbuh solid antara 5,0 hingga 5,6 persen. [ANTARA}
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Provinsi Lampung pada tahun 2026 tumbuh solid antara 5,0 hingga 5,6 persen.
  • Pertumbuhan tersebut didorong oleh hilirisasi industri pengolahan gula, jagung, serta dominasi 70 persen produksi singkong nasional.
  • Sektor konstruksi turut mencatat pertumbuhan 6,57 persen melalui proyek strategis pemerintah serta pembangunan infrastruktur swasta.

SuaraLampung.id - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Provinsi Lampung justru menunjukkan tajinya. Bumi Ruwa Jurai diprediksi tidak sekadar bertahan, melainkan berlari kencang.

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Lampung pada 2026 bakal tumbuh solid di angka 5,0 hingga 5,6 persen.

Apa rahasia di balik optimisme ini? Jawabannya ada pada hilirisasi. Lampung bukan lagi sekadar pengirim bahan mentah.

Pada triwulan II 2026 saja, sektor industri pengolahan melesat 6,99 persen. Gula, jagung, dan tapioka menjadi aktor utamanya.

Musim tebang tebu yang dimulai sejak April 2026 serta panen raya jagung di bulan Mei menjadi bahan bakar utama pertumbuhan.

Satu fakta yang tak boleh diabaikan, Lampung kini menguasai 70 persen produksi singkong nasional. Dominasi ini memberikan daya tawar luar biasa bagi ekonomi daerah, terutama dengan ekspansi pengolahan tapioka yang kian masif.

"Kinerja ekonomi Lampung tetap solid, ditopang oleh permintaan domestik yang kuat serta permintaan eksternal yang terjaga," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto.

Tak hanya di ladang dan pabrik, wajah Lampung juga berubah lewat sektor konstruksi yang tumbuh 6,57 persen. Proyek strategis pemerintah dan swasta terus berjalan, termasuk ambisi mewujudkan Jalan Mantap dan rampungnya 631 unit Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Namun, BI menyadari bahwa pertumbuhan otot ekonomi ini harus dibarengi dengan kecerdasan strategi. Bimo membeberkan tiga jurus utama yang disiapkan:

Baca Juga: Bukan Begal! Viral Video Penangkapan di Bandar Lampung Ternyata Kasus Kotak Amal

  • Penguatan Sektor Primer: Menjaga stabilitas harga melalui produktivitas pertanian dan rantai pasok yang efisien.
  • Hilirisasi & Investasi: Mendorong UMKM naik kelas agar berorientasi ekspor dan mempromosikan proyek investasi potensial (IPRO).
  • Akselerasi Digital: Mempercepat transaksi non-tunai di seluruh lini pemerintah daerah demi efisiensi dan optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD).

Meski performa triwulan II 2026 tercatat impresif di angka 5,29 persen, BI tetap memberikan catatan penting. Ada risiko yang mengintai di balik cakrawala: ketidakpastian global, perubahan cuaca yang ekstrem, serta fluktuasi harga pangan dunia. (ANTARA)

Load More