Wakos Reza Gautama
Selasa, 22 September 2026 | 18:59 WIB
Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi ESDM menurunkan status Gunung Anak Krakatau dari Siaga ke Waspada pada Senin, 21 September 2026. [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU]
Baca 10 detik
  • Badan Geologi ESDM menurunkan status Gunung Anak Krakatau dari Siaga ke Waspada pada Senin, 21 September 2026.
  • Penurunan status ini didasarkan pada data penurunan tekanan magma yang membuat aktivitas vulkanik gunung tersebut semakin melemah.
  • Pemerintah melarang masyarakat mendekati kawah dalam radius dua kilometer serta meminta warga mengabaikan isu tsunami yang tidak benar.

SuaraLampung.id - Ketegangan di sepanjang perairan Selat Sunda mulai mereda. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menurunkan tingkat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada), terhitung sejak Senin (21/9/2026) malam.

Penurunan status ini menjadi angin segar bagi masyarakat pesisir Lampung dan Banten setelah gunung api aktif tersebut sempat bergejolak hebat sepanjang awal September.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Aswarodi, mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan hasil pemantauan komprehensif terhadap aktivitas visual, kegempaan, serta deformasi tubuh gunung.

"Data deformasi menunjukkan terjadinya deflasi, yang menandakan adanya penurunan tekanan magma di dalam tubuh gunung api. Meski trennya melemah, kami tegaskan status Waspada bukan berarti bebas risiko," ujar Aswarodi di Command Center BPBD Lampung, Selasa (22/9/2026).

Berdasarkan laporan kegempaan terakhir, instrumen pencatat hanya merekam satu kali Gempa Low Frequency dengan tremor menerus beramplitudo rata-rata 2 milimeter, menurun drastis dibanding fase erupsi intensif sejak dinaikkan ke status Siaga pada 2 Juli lalu.

Seiring dengan turunnya status ke Level II, Pemprov Lampung memastikan denyut perekonomian, kegiatan pendidikan, perkantoran, dan aktivitas sosial masyarakat pesisir dapat kembali berjalan normal tanpa rasa cemas berlebih. Kendati demikian, otoritas kebencanaan tetap menetapkan garis merah yang tidak boleh dilanggar.

"Masyarakat, nelayan, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekati atau beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Kawasan tersebut mutlak harus steril dari aktivitas manusia guna mengantisipasi lontaran material pijar jika sewaktu-waktu terjadi letupan susulan," tegas Aswarodi.

Di tengah membaiknya kondisi vulkanik, Aswarodi secara khusus menyoroti maraknya disinformasi liar di media sosial yang mengeklaim erupsi Anak Krakatau berpotensi memicu gelombang tsunami besar dalam waktu dekat. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi kabar burung yang tak berdasar.

"Kami minta masyarakat di pesisir Lampung dan Banten tetap tenang. Jangan mudah percaya isu di media sosial soal potensi tsunami yang dilebih-lebihkan. Pegang rujukan resmi dari instansi yang berwenang seperti BPBD, BMKG, PVMBG, atau pantau langsung lewat aplikasi Magma Indonesia," imbaunya.

Baca Juga: Gempa Menurun tapi Dapur Magma Krakatau Masih Bergeliat, Ahli Itera Beri Peringatan Ini!

Meski fase krisis telah mereda, BPBD Lampung bersama tim gabungan lintas instansi memastikan pemantauan 24 jam terhadap denyut vulkanik Anak Krakatau tetap diperketat demi menjamin keselamatan jalur pelayaran vital di Selat Sunda.

Load More