Wakos Reza Gautama
Kamis, 10 September 2026 | 11:11 WIB
Ilustrasi RSUDAM Lampung. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung membagi lima belas wilayah menjadi lima zona untuk mengantisipasi erupsi Gunung Anak Krakatau. [rsudam.lampungprov.go.id]
Baca 10 detik
  • Dinas Kesehatan Provinsi Lampung membagi lima belas wilayah menjadi lima zona untuk mengantisipasi erupsi Gunung Anak Krakatau.
  • Pemerintah menetapkan lima RSUD strategis dan tiga rumah sakit rujukan utama untuk menangani lonjakan pasien darurat.
  • Puskesmas memperketat pengawasan harian untuk mendeteksi secara cepat lonjakan kasus penyakit akibat paparan debu vulkanik.

SuaraLampung.id - Bayang-bayang erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tak hanya menuntut kewaspadaan di bibir kawah Selat Sunda, melainkan juga menguji ketangguhan rantai layanan kesehatan di daratan Lampung.

Mengantisipasi serbuan abu vulkanik dan lonjakan pasien mendadak, Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Lampung merombak peta mitigasi medis dengan membagi 15 kabupaten/kota ke dalam lima zona regional sistem rujukan cepat.

Langkah ini dirancang sebagai sabuk pengaman agar penanganan dampak bencana tidak bertumpu pada satu titik, melainkan terdistribusi merata dan gesit merespons kedaruratan di lapangan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Djohan Lius, menegaskan bahwa seluruh lini faskes, mulai dari Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas induk, hingga rumah sakit daerah, kini berada dalam status siaga penuh.

"Kami telah menerbitkan Surat Edaran tentang Kewaspadaan dan Langkah Antisipasi Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau. Ini menjadi kompas dan pedoman taktis bagi seluruh jajaran tenaga medis di daerah untuk mempercepat penanganan warga," tegas Djohan, Rabu (9/9/2026).

Di bawah skema baru ini, lima Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) strategis ditunjuk sebagai benteng utama layanan lanjutan di masing-masing regional yaitu RSUD Abdul Moeloek (Kota Bandar Lampung), RSUD Pringsewu (Kabupaten Pringsewu), RSUD Alimuddin Umar (Kabupaten Lampung Barat), RSUD Menggala (Kabupaten Tulang Bawang) dan RSUD Jenderal Ahmad Yani (Kota Metro).

Kelima rumah sakit ini berfungsi sebagai penyaring dan penopang utama bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis intensif sebelum melangkah ke tingkat rujukan puncak.

Sementara itu, untuk kasus-kasus klinis dengan tingkat kedaruratan paling berat, pemerintah provinsi menyiagakan tiga rumah sakit rujukan pamungkas milik Pemprov Lampung yakni RSUD Bandar Negara Husada, RSUD Alamsyah Ratu Perwiranegara, dan RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSAM) yang bertindak sebagai episentrum rujukan tertinggi.

Bukan rahasia lagi, setiap kali perut Anak Krakatau bergolak, partikel debu vulkanik halus menjadi ancaman nyata bagi saluran pernapasan, mata, hingga kulit warga.

Baca Juga: Sempat Melonjak Tajam, Serangan ISPA di Lampung Akibat Erupsi Anak Krakatau Akhirnya Melandai

Oleh karena itu, penguatan surveilans epidemiologi di tingkat puskesmas diperketat guna mendeteksi secara real-time ledakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan iritasi massal.

"Kesiapsiagaan kami bukan hanya soal kesiapan ranjang rumah sakit, tapi juga pemantauan harian kondisi kesehatan masyarakat dan deteksi dini penyakit bawaan debu vulkanik," pungkas Djohan. (ANTARA)

Load More