Wakos Reza Gautama
Kamis, 10 September 2026 | 07:20 WIB
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung Djohan Lius mengatakan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat dampak paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Provinsi Lampung mulai mengalami penurunan di Selasa (8/9/2026) menjadi 1.281 kasus. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Dinas Kesehatan Provinsi Lampung melaporkan kasus ISPA akibat debu vulkanik Gunung Anak Krakatau turun drastis menjadi 1.281 kasus pada Selasa (8/9/2026).
  • Akumulasi kasus ISPA di seluruh Lampung mencapai 6.671 orang dari total laporan tanggal 4 hingga 8 September 2026.
  • Selain ISPA, Dinas Kesehatan mencatat kemunculan 236 kasus Influenza Like Illness serta 58 kasus pneumonia akibat paparan debu tersebut.

SuaraLampung.id - Setelah beberapa hari langit Lampung diselimuti serbuan debu vulkanik dari perut Gunung Anak Krakatau (GAK), kabar melegakan akhirnya berhembus.

Ancaman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang sempat mencengkeram ribuan warga di 15 kabupaten dan kota kini mulai menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, grafik kasus ISPA mengalami penurunan tajam pada Selasa (8/9/2026).

Tercatat, angka penderita menyusut drastis ke angka 1.281 kasus, berkurang hingga 712 kasus hanya dalam kurun 24 jam dibanding hari sebelumnya yang sempat menyentuh puncak 1.993 kasus.

"Kondisinya mulai membaik dibanding hari Senin. Jika diakumulasikan sepanjang 4 hingga 8 September, ada total 6.671 kasus ISPA yang dilaporkan dari seluruh penjuru Lampung," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Djohan Lius, Rabu (9/9/2026).

Jejak abu vulkanik Anak Krakatau memang sempat memicu fluktuasi tajam pada kesehatan masyarakat. Riwayat mencatat, pada Jumat (4/9/2026) keluhan ISPA menyerang 1.587 warga, lalu sedikit melandai di hari Sabtu (1.435 kasus), dan sempat menyusut tajam di hari Minggu dengan 375 kasus, sebelum akhirnya kembali meledak di awal pekan.

Namun, bukan hanya ISPA yang membayangi paru-paru warga. Partikel halus abu vulkanik juga membawa rentetan penyakit pernapasan lainnya.

Diskes mencatat setidaknya ada 236 kasus Penyakit Serupa Influenza (Influenza Like Illness/ILI) dalam rentang waktu yang sama, dengan rincian 61 kasus pada Jumat, 51 pada Sabtu, 29 di hari Minggu, 44 pada Senin, dan kembali berada di angka 51 kasus pada Selasa.

Di sisi lain, ancaman radang paru-paru basah atau pneumonia turut mengintai. Total 58 warga dilaporkan terjangkit pneumonia dengan grafik harian yang bergerak dinamis yakni 15 kasus berturut-turut pada Jumat dan Sabtu, melandai menjadi 2 kasus di hari Minggu, lalu merangkak naik ke angka 10 di hari Senin, dan mencapai 16 kasus pada Selasa.

Baca Juga: Armada Ditpolairud Polda Lampung Diterjunkan Lacak 5 Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

"Tiga penyakit saluran pernapasan ini memang paling berpotensi menular dan merebak cepat pascapaparan debu vulkanik. Grafiknya masih sangat fluktuatif," ungkap Djohan.

Kendati demikian, Djohan menegaskan bahwa sistem pertahanan fasilitas kesehatan di tingkat kabupaten dan kota masih berdiri kokoh menahan gempuran kasus.

Setiap hari, data dari puskesmas dan rumah sakit terus direkapitulasi secara real-time ke Pusdalops BPBD Provinsi Lampung guna mengantisipasi status Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Pelayanan medis di daerah masih sangat terkendali. Kami terus memantau dengan ketat agar situasi ini tidak berkembang menjadi krisis kesehatan," pungkasnya. (ANTARA)

Load More