Wakos Reza Gautama
Selasa, 15 September 2026 | 07:41 WIB
Ilustrasi Bandar Lampung tergenang banjir. BBWS Mesuji Sekampung memetakan lima kawasan rawan banjir di Bandar Lampung berdasarkan data periode 2018 sampai 2025. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • BBWS Mesuji Sekampung memetakan lima kawasan rawan banjir di Bandar Lampung berdasarkan data periode 2018 sampai 2025.
  • Alih fungsi lahan, saluran air yang menyempit, hambatan di muara, serta tata kelola terpadu menjadi empat penyebab utama banjir.
  • Penyusunan dokumen masterplan dan rancangan teknis ini bertujuan mengatasi persoalan banjir tahunan yang meresahkan warga setempat.

SuaraLampung.id - Ancaman genangan air yang kerap melumpuhkan aktivitas warga Bandar Lampung kini mendapat perhatian serius. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung memetakan lima kawasan paling rentan terendam banjir di Kota Tapis Berseri.

Pemetaan tersebut merupakan bagian dari perumusan dokumen rencana induk (Masterplan) dan rancangan teknis rinci (Detailed Engineering Design/DED) Pengendalian Banjir Kota Bandar Lampung, hasil kerja sama dengan konsultan pelaksana PT Suwanda Karya Mandiri.

Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, menegaskan bahwa pemetaan ini ditarik berdasarkan rekam jejak bencana banjir selama tujuh tahun terakhir (periode 2018–2025).

Penyusunannya turut melibatkan evaluasi intensif bersama jajaran pemerintah daerah, akademisi, praktisi tata air, hingga seluruh camat di Bandar Lampung.

Dari hasil evaluasi tersebut, berikut persebaran lima zona rawan banjir yang patut diwaspadai:

  1. Kawasan Utara–Tengah meliputi Kecamatan Rajabasa, Kedaton, dan Labuhan Ratu. Jalur-jalur krusial yang kerap terendam antara lain Jalan ZA Pagar Alam, kawasan Terminal Indra Bangsawan, Nunyai–Haji Ismail, Komarudin, Lambang–Pasemah, Palapa, hingga Untung Suropati.
  2. Kawasan Timur dan Timur Laut mencakup Sukarame, Sukabumi, Way Halim, Tanjung Senang, dan Kedamaian. Titik langganan air meliputi Way Dadi, Way Dadi Baru, Korpri, Campang Jaya, Campang Raya, Way Laga, Jagabaya, Kalibalau, Kencana, serta Jalan Antasari.
  3. Kawasan Pusat Kota menyasar Tanjung Karang Pusat, Tanjung Karang Timur, Tanjung Karang Barat, dan Enggal. Lokasi padat mobilitas seperti Jalan Kartini, Raden Intan, kawasan Pasir Gintung, Penengahan, Panglima Polim, dan HOS Cokroaminoto menjadi fokus utama.
  4. Kawasan Barat Daya dan Kaki Perbukitan meliputi Teluk Betung Barat dan Teluk Betung Timur, dengan titik rawan di Bakung, Negeri Olok Gading, Kuripan, Keteguhan, Way Tataan, Sukamaju, hingga Ulu Kunci.
  5. Kawasan Hilir dan Pesisir mencakup Kecamatan Panjang, Bumi Waras, dan Teluk Betung Selatan, meliputi area Way Lunik, Jalan Yos Sudarso, Pidada, Ketapang, Srengsem, Garuntang, Pesawahan, Gedong Pakuan, serta Pasar Ambon.

Selain memetakan zona rawan, BBWS Mesuji Sekampung mengurai empat faktor mendasar yang menjadi penyebab utama meluapnya air:

Limpasan Air yang Tak Terkendali: Masifnya alih fungsi lahan dan minimnya area resapan membuat air hujan dari hulu langsung mengalir deras ke permukiman padat tanpa terserap tanah.

Kapasitas Saluran yang Tercekik: Sistem drainase kota mengalami penyempitan, sedimentasi lumpur parah, tumpukan sampah, tanggul rusak, hingga adanya konstruksi bangunan yang melintang di atas saluran air.

Hambatan di Wilayah Muara (Backwater): Drainase tersumbat saat berhadapan dengan luapan sungai besar dan pasang air laut (rob), memicu fenomena arus balik (backwater).

Baca Juga: Hilang Kendali di Depan Mal Ramayana Bandar Lampung, Pengendara Xeon Tewas Tabrak Pagar Trotoar

Tata Kelola yang Belum Terpadu: Koordinasi lintas lembaga, regulasi tata ruang, kejelasan batas wewenang antarpemangku kebijakan, serta keterbatasan data dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Dokumen masterplan dan DED ini diharapkan tidak hanya berhenti di atas kertas kajian, melainkan segera menjadi cetak biru operasional untuk mengatasi persoalan banjir tahunan yang kian meresahkan warga ibu kota Lampung tersebut. (ANTARA)

Load More