Wakos Reza Gautama
Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:10 WIB
ilustrasi emas. Emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang inflasi tahunan terbesar di Lampung dengan andil 0,39 persen pada Juli 2026. [freepik]
Baca 10 detik
  • Badan Pusat Statistik Lampung mencatat inflasi tahunan provinsi sebesar 1,76 persen pada Juli 2026.
  • Emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang inflasi tahunan terbesar di Lampung dengan andil 0,39 persen.
  • Kabupaten Mesuji menghadapi inflasi tertinggi sebesar 2,81 persen, sedangkan Lampung Timur terendah pada angka 1,45 persen.

SuaraLampung.id - Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa emas perhiasan kini bukan sekadar aksesori, melainkan faktor utama yang memacu denyut inflasi di Bumi Ruwa Jurai.

Pada Juli 2026, Provinsi Lampung mencatatkan inflasi tahunan sebesar 1,76 persen. Menariknya, di tengah fluktuasi harga berbagai barang kebutuhan, emas perhiasan muncul sebagai juara penyumbang inflasi dengan andil mencapai 0,39 persen.

Meski angka 1,76 persen terdengar signifikan, kabar baiknya adalah inflasi Lampung sebenarnya tengah menunjukkan tren melandai.

"Jika dibandingkan dengan Juli tahun lalu yang mencapai 2,63 persen, atau bulan Juni lalu yang berada di angka 2,46 persen, kondisi saat ini jauh lebih rendah," ungkap Statistisi Ahli Madya BPS Lampung, Hermawan Prasetyo, dalam paparan daringnya, Senin (3/8/2026).

Namun, beban pengeluaran warga Lampung memang tidak merata di semua sektor. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, di mana emas perhiasan bernaung, mengalami lonjakan harga hingga 9,94 persen.

Selain emas, yang membuat kantong warga cukup tertekan adalah kenaikan harga bensin, beras, minyak goreng, hingga daging ayam.

Peta ekonomi Lampung juga menunjukkan kontras yang menarik antarwilayah. Warga di Kabupaten Mesuji harus menghadapi tekanan harga paling tinggi dengan inflasi mencapai 2,81 persen.

Sebaliknya, Kabupaten Lampung Timur menjadi daerah dengan kondisi harga paling stabil atau terendah, yakni hanya sebesar 1,45 persen.

Bagi para ibu rumah tangga, ada angin segar yang bertiup dari pasar tradisional. Jika secara tahunan kita bicara inflasi, namun jika dilihat secara bulanan (Juli terhadap Juni 2026), Lampung sebenarnya mengalami deflasi sebesar 0,49 persen.

Baca Juga: Amankan Dapur 2.180 Pegawai, Pemkot Bandar Lampung Kucurkan Rp8,6 Miliar Gaji PPPK Tiap Bulan

Artinya, secara umum harga-harga justru turun dibandingkan bulan lalu. Komoditas di balik penurunan harga ini adalah bumbu dapur. Harga bawang merah, cabai merah, telur ayam, hingga tomat terpantau kompak melandai dan memberikan sumbangan deflasi terbesar.

Namun, di sela-sela turunnya harga pangan, harga bensin dan beras masih menunjukkan sedikit kenaikan bulanan, disusul oleh kenaikan harga telepon seluler yang juga memberikan andil inflasi tipis. (ANTARA)

Load More