- Pemerintah Provinsi Lampung membangun Kawasan Industri Kakao di Lampung Selatan untuk melakukan hilirisasi produk pertanian.
- Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyatakan proyek bernilai ekonomi Rp4,36 triliun ini diresmikan pada Rabu, 22 Juli 2026.
- Fasilitas pengolahan kakao organik pertama di Indonesia itu bertujuan meningkatkan harga jual panen dan menciptakan lapangan kerja.
SuaraLampung.id - Selama ini, Lampung dikenal sebagai salah satu lumbung kakao terbesar di Indonesia. Namun, di balik hamparan hijau seluas 77.125 hektare yang menghasilkan hampir 50 ribu ton biji kakao per tahun, tersimpan sebuah ironi.
Para petani selama ini lebih banyak menjual hasil keringat mereka dalam bentuk biji mentah, sementara nilai tambahnya dinikmati oleh industri di luar daerah, bahkan di luar negeri.
Kini, narasi itu mulai diubah. Pemerintah Provinsi Lampung tengah tancap gas membangun sebuah ekosistem baru bernama Kawasan Industri Kakao.
"Kita ingin transformasi ekonomi. Hilirisasi bukan sekadar jargon, tapi upaya memastikan harga jual panen naik dan menciptakan lapangan kerja baru di daerah kita sendiri," tegas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Rabu (22/7/2026).
Bukan tanpa alasan Lampung berani bermimpi besar. Dengan nilai ekonomi mencapai Rp4,36 triliun, kakao Lampung sebenarnya menyimpan rahasia yang diburu pasar internasional.
Philip de Mayer, Managing Director PT Buhler Indonesia, mengungkapkan bahwa biji kakao asal Lampung memiliki flavour profile atau karakter rasa yang jauh lebih kuat dan unik dibandingkan daerah lain.
"Lampung punya modal alam untuk jadi pusat industri kakao premium dunia. Tantangannya selama ini hanya pada kapasitas pengolahan pascapanen," ujar Philip.
Langkah nyata ini akan diwujudkan di Kabupaten Lampung Selatan. Proyek yang tengah dikembangkan ini digadang-gadang akan menjadi fasilitas pengolahan kakao organik single origin pertama di Indonesia.
Ini adalah tiket emas untuk menembus pasar cokelat papan atas di dunia yang sangat menghargai orisinalitas dan kualitas organik.
Baca Juga: Petaka di Ujung Tol Kalianda: Perjalanan Pikap Berakhir Duka, 2 Orang Tewas
Kawasan industri ini dirancang bukan sekadar pabrik pengolahan berkapasitas dua ton per jam. Di sana, akan dibangun sebuah ekosistem lengkap, mulai dari pusat pembibitan unggul, pusat pelatihan untuk meng-upgrade skill petani, hingga laboratorium riset dan pengembangan (R&D).
Nantinya, hilirisasi ini tidak hanya akan menghasilkan cokelat batangan, tetapi juga menyasar industri kosmetik dan farmasi.
Dengan teknologi canggih dan transfer pengetahuan dari mitra internasional, Lampung tidak lagi hanya mengirim bahan baku, melainkan mengirim produk jadi dengan merek "Single Origin Lampung" ke etalase global. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Bukan Sekadar Biji: Ambisi Lampung Menjadi Kiblat Cokelat Premium Dunia
-
Petaka di Ujung Tol Kalianda: Perjalanan Pikap Berakhir Duka, 2 Orang Tewas
-
Densus 88 Sikat Provokator Digital di Lampung
-
Tiga Penjarah Fasilitas Masjid di Tulang Bawang Berakhir di Tangan Polisi
-
Misi Besar Menyulap Lampung Menjadi Raksasa Ekonomi Syariah Sumatera