Wakos Reza Gautama
Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:22 WIB
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memasang turap bambu di ruas jalan batas Liwa Kabupaten Lampung Barat dengan Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai metode baru dinding penahan longsor. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Dinas BMBK Lampung menerapkan metode turap bambu untuk mengatasi kerawanan longsor di jalur perbatasan Lampung Barat dan Sumatera Selatan.
  • Penggunaan akar bambu bertujuan menciptakan penguat alami yang lebih adaptif, efisien, dan ekonomis dibandingkan penggunaan bronjong beton konvensional.
  • Pemerintah menyiagakan petugas dan alat berat selama 24 jam guna menjamin keamanan pengguna jalan saat menghadapi potensi cuaca ekstrem.

SuaraLampung.id - Jalur perbatasan yang menghubungkan Liwa di Lampung Barat dengan Provinsi Sumatera Selatan sepanjang 19 kilometer bukan sekadar hamparan aspal. Jalur ini adalah urat nadi ekonomi sekaligus tantangan bagi para insinyur jalan.

Betapa tidak, di balik pemandangannya yang asri, tersimpan ancaman longsor yang siap mengintai setiap kali hujan turun membasahi perbukitan.

Kontur tanah merah yang bercampur pasir di kawasan ini menjadikannya sangat labil. Selama bertahun-tahun, metode konvensional terus dilakukan untuk menjaga kestabilan tebing.

Namun tahun ini, Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda, sebuah langkah kembali ke alam yang cerdas sekaligus efisien.

Alih-alih hanya mengandalkan beton atau bronjong kawat berisi batu yang kaku, mereka kini memasang turap bambu.

Kepala Dinas BMBK Provinsi Lampung, M. Taufiqullah mengungkapkan bahwa pemilihan bambu bukanlah tanpa alasan teknis yang kuat. Geografis Lampung Barat yang berbukit dengan kontur tanah lunak berpasir menuntut solusi yang lebih adaptif.

"Biasanya kita memakai bronjong pada umumnya. Akan tetapi, kali ini UPTD berinisiatif menggunakan bambu sebagai turap atau dinding penahan. Harapannya, bambu-bambu ini nantinya bisa tumbuh dan menjadi penguat alami," ujar Taufiqullah.

Strategi ini ibarat membangun benteng hidup. Jika bronjong biasa bisa mengalami korosi atau penurunan fungsi seiring waktu, bambu yang ditanam justru akan memperkuat dirinya sendiri.

Akar-akar bambu yang menjalar akan mengikat butiran pasir dan tanah merah, menciptakan jaringan alami yang jauh lebih kuat dalam menahan beban tanah saat hujan lebat mengguyur.

Baca Juga: Urat Nadi Baru di Lampung Barat: Jalan 112 KM Menuju Suoh Segera Merdeka dari Jalur Rusak

Selain faktor teknis, aspek ekonomi dan lingkungan menjadi alasan utama di balik proyek percontohan ini. Penggunaan turap bambu dinilai jauh lebih murah dibandingkan konstruksi beton masif, namun tetap memberikan fungsi penahanan yang maksimal untuk karakter tanah tertentu.

"Dengan adanya upaya ini, selain murah, kita juga bisa langsung melestarikan alam karena ada tanaman bambu yang ditanam untuk memperkuat dinding yang longsor tadi. Kami akan terus mengawasi, mudah-mudahan proyek ini berhasil," tambahnya.

Meski metode baru ini memberikan harapan besar, Pemprov Lampung tidak lantas lengah. Mengingat cuaca ekstrem yang sulit diprediksi, Dinas BMBK tetap menyiagakan tim dan berbagai peralatan berat di sepanjang ruas jalan provinsi tersebut.

Petugas UPTD disiagakan 24 jam untuk merespons setiap potensi keretakan atau longsoran baru. Bagi mereka, kecepatan penanganan adalah kunci agar jalur vital Lampung-Sumsel ini tetap bisa dilintasi dengan aman oleh masyarakat. (ANTARA)

Load More