- Balai Karantina Lampung mengekspor 14 ribu ton bungkil sawit senilai Rp20 miliar ke Selandia Baru pekan ini.
- Bungkil sawit menjadi pakan ternak efisien bagi Selandia Baru berkat kandungan serat tinggi yang mendukung produktivitas.
- Tren ekspor bungkil sawit asal Lampung terus meningkat secara signifikan seiring tingginya kebutuhan pakan ternak global.
SuaraLampung.id - Palm Kernel Expeller (PKE) atau bungkil sawit, sebuah komoditas yang kini menjadi primadona baru di pasar internasional.
Pekan ini, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung baru saja melepas keberangkatan 14 ribu ton PKE menuju Selandia Baru. Tak tanggung-tanggung, nilai ekonomi dari satu kali pengapalan ini mencapai angka Rp20 miliar.
Selandia Baru, negara yang dikenal dengan industri susunya yang mendunia, ternyata sangat bergantung pada limbah dari Lampung ini.
Kandungan serat yang tinggi dalam bungkil sawit menjadikannya pakan alternatif paling efisien untuk mendongkrak produktivitas sapi perah dan sapi potong di sana.
"PKE diberangkatkan setelah memenuhi standar ketat negara tujuan. Ini bukti nyata bahwa komoditas asal Lampung memiliki daya saing yang digdaya di pasar global," ujar Donni Muksydayan, Kepala Balai Karantina Lampung.
Menariknya, ekspor kali ini bukan sekadar rutinitas. Donni mencatat adanya wajah-wajah baru di deretan eksportir Lampung.
Fenomena ini menjadi sinyal positif bahwa peluang emas di sektor perkebunan kian terbuka lebar bagi siapa saja yang berani bersaing.
"Kehadiran eksportir baru ini menunjukkan bahwa sistem sertifikasi dan pengawasan karantina kita mampu mendampingi pelaku usaha menembus pasar internasional secara berkelanjutan," tambah Donni dengan nada optimis.
Sebelum kapal angkat sauh, pemeriksaan ketat dilakukan. Sertifikat Fitosanitari (Phytosanitary Certificate) adalah paspor sakti yang menjamin produk Indonesia bebas dari organisme pengganggu dan memenuhi standar kesehatan internasional.
Baca Juga: Gara-gara Undangan Hajatan, Pria di Lampung Timur Ditembak Mati Kerabat Sendiri
“Kami hadir sebagai fasilitator perdagangan yang aman. Tugas kami adalah memastikan akses pasar tetap terjaga melalui kepercayaan global terhadap produk kita,” jelas Donni.
Data menunjukkan bahwa demam bungkil sawit bukan sekadar tren sesaat. Tren ekspor PKE dari Lampung terus meroket tajam.
Tahun 2024 mencapai 172 kali ekspor dengan total nilai Rp2,58 triliun. Lalu 2025 frekuensi meningkat menjadi 184 kali dengan volume 1,34 juta ton senilai Rp3,12 triliun.
Pada tahun 2026 periode Januari-Juni atau hanya dalam setengah tahun, sudah tercatat 66 kali ekspor dengan nilai mencapai Rp1,17 triliun.
Kebutuhan dunia akan bahan baku pakan alternatif yang efisien terus tumbuh seiring geliat industri peternakan global. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bungkil Sawit Lampung Jadi Primadona Ekspor Baru ke Selandia Baru
-
Gara-gara Undangan Hajatan, Pria di Lampung Timur Ditembak Mati Kerabat Sendiri
-
Akhir Tragis Satwa Langka: Pembantai Tapir Viral Mesuji Diringkus, Kepala Dipukul Pakai Dongkrak
-
Viral Tuduhan Pungli Rest Area Tol Lampung, Pertamina Patra Niaga Buka Suara
-
Sakit Hati Sering Dimarahi, Plencung Balas Dendam Curi Motor Pelanggan Bengkel Kakak Ipar