Wakos Reza Gautama
Sabtu, 04 Juli 2026 | 07:45 WIB
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Karantina Lampung (Karantina Lampung) melepas ekspor 14 ribu ton Palm Kernel Expeller (PKE) atau bungkil sawit menuju Selandia Baru. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Balai Karantina Lampung mengekspor 14 ribu ton bungkil sawit senilai Rp20 miliar ke Selandia Baru pekan ini.
  • Bungkil sawit menjadi pakan ternak efisien bagi Selandia Baru berkat kandungan serat tinggi yang mendukung produktivitas.
  • Tren ekspor bungkil sawit asal Lampung terus meningkat secara signifikan seiring tingginya kebutuhan pakan ternak global.

SuaraLampung.id - Palm Kernel Expeller (PKE) atau bungkil sawit, sebuah komoditas yang kini menjadi primadona baru di pasar internasional.

Pekan ini, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung baru saja melepas keberangkatan 14 ribu ton PKE menuju Selandia Baru. Tak tanggung-tanggung, nilai ekonomi dari satu kali pengapalan ini mencapai angka Rp20 miliar.

Selandia Baru, negara yang dikenal dengan industri susunya yang mendunia, ternyata sangat bergantung pada limbah dari Lampung ini.

Kandungan serat yang tinggi dalam bungkil sawit menjadikannya pakan alternatif paling efisien untuk mendongkrak produktivitas sapi perah dan sapi potong di sana.

"PKE diberangkatkan setelah memenuhi standar ketat negara tujuan. Ini bukti nyata bahwa komoditas asal Lampung memiliki daya saing yang digdaya di pasar global," ujar Donni Muksydayan, Kepala Balai Karantina Lampung.

Menariknya, ekspor kali ini bukan sekadar rutinitas. Donni mencatat adanya wajah-wajah baru di deretan eksportir Lampung.

Fenomena ini menjadi sinyal positif bahwa peluang emas di sektor perkebunan kian terbuka lebar bagi siapa saja yang berani bersaing.

"Kehadiran eksportir baru ini menunjukkan bahwa sistem sertifikasi dan pengawasan karantina kita mampu mendampingi pelaku usaha menembus pasar internasional secara berkelanjutan," tambah Donni dengan nada optimis.

Sebelum kapal angkat sauh, pemeriksaan ketat dilakukan. Sertifikat Fitosanitari (Phytosanitary Certificate) adalah paspor sakti yang menjamin produk Indonesia bebas dari organisme pengganggu dan memenuhi standar kesehatan internasional.

Baca Juga: Gara-gara Undangan Hajatan, Pria di Lampung Timur Ditembak Mati Kerabat Sendiri

“Kami hadir sebagai fasilitator perdagangan yang aman. Tugas kami adalah memastikan akses pasar tetap terjaga melalui kepercayaan global terhadap produk kita,” jelas Donni.

Data menunjukkan bahwa demam bungkil sawit bukan sekadar tren sesaat. Tren ekspor PKE dari Lampung terus meroket tajam.

Tahun 2024 mencapai 172 kali ekspor dengan total nilai Rp2,58 triliun. Lalu 2025 frekuensi meningkat menjadi 184 kali dengan volume 1,34 juta ton senilai Rp3,12 triliun.

Pada tahun 2026 periode Januari-Juni atau hanya dalam setengah tahun, sudah tercatat 66 kali ekspor dengan nilai mencapai Rp1,17 triliun.

Kebutuhan dunia akan bahan baku pakan alternatif yang efisien terus tumbuh seiring geliat industri peternakan global. (ANTARA)

Load More