- Pemerintah pusat menetapkan Provinsi Lampung sebagai lokasi pengembangan ekosistem nasional untuk memproduksi bioetanol berbasis komoditas pertanian lokal.
- Pembangunan pabrik pertama berlokasi di Pesawaran dengan target produksi tahunan mencapai 250 ribu kiloliter untuk mendukung program nasional E10.
- Industri ini diproyeksikan meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif.
SuaraLampung.id - Selama puluhan tahun, singkong, jagung, dan tebu telah menjadi urat nadi ekonomi Provinsi Lampung. Sebentar lagi komoditas kebanggaan Bumi Ruwa Jurai ini tidak hanya akan berakhir di meja makan atau pabrik pakan, melainkan mengisi tangki kendaraan di seluruh pelosok negeri.
Provinsi Lampung secara resmi telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai lokasi perdana pengembangan ekosistem bioetanol nasional.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Lampung, Bimo Epyanto, melihat peluang emas ini sebagai pengungkit sektor pertanian yang luar biasa.
Menurutnya, industri bioetanol akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menyentuh langsung akar rumput.
"Di Lampung akan segera dikembangkan kawasan industri bioetanol. Ini bukan sekadar pabrik, tapi ekosistem. Bahan bakunya seperti singkong, jagung, tebu, sorgum, hingga limbah sawit bisa disuplai langsung oleh petani kita," ujar Bimo, Rabu (17/6/2026).
Targetnya tidak main-main. Lampung diharapkan mampu memproduksi 240 ribu hingga 250 ribu kiloliter bioetanol per tahun.
Angka ini mencakup 10 persen dari total kebutuhan nasional untuk mendukung program campuran etanol 10 persen (E10) yang ditargetkan berlaku mulai 2028.
Jantung dari industri ini akan berdenyut di Desa Kota Agung, Tegineneng, Pesawaran. Di sana, lahan seluas 20 hektare telah disiapkan untuk membangun pabrik pertama dari total empat titik produksi yang direncanakan.
Menariknya, industri ini tidak hanya mengandalkan tanaman tradisional. Sorgum, tanaman tangguh yang kaya manfaat, akan dibudidayakan secara masif di lahan sekitar Bandara Radin Inten II serta lahan milik PTPN Natar.
Baca Juga: Modus Numpang Ngecas, Residivis di Bandar Lampung Bawa Kabur HP Penjual Saat COD
Bimo menekankan bahwa transformasi ini akan mengubah peta ekonomi daerah. Nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan bahan mentah menjadi bioetanol dipastikan akan menaikkan harga di tingkat petani, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
"Hal yang paling penting bukan hanya nilai investasinya, tetapi bagaimana dampak nyata bagi masyarakat. Kami di Bank Indonesia siap mendukung penuh agar manfaat ini benar-benar dirasakan oleh petani kita," tambahnya. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Modus Numpang Ngecas, Residivis di Bandar Lampung Bawa Kabur HP Penjual Saat COD
-
Pencurian Mobil Brio Merah di Sanggar Beach Kalianda Terbongkar, Modusnya Rapi
-
BI Lampung: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Bisa Menjadi Berkah Bagi Petani Lokal
-
Tergiur Kerja di Tambang Papua, Wanita di Lampung Utara Kena Tipu Janji Manis Residivis
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- 3 Fakta Gila Usai Persib Bandung Kalahkan FC Seoul: Tumbangkan Ranking 26 Asia
Pilihan
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
Terkini
-
Gerebek Kamar Hotel di Pringsewu: Pria Asyik Main Judol Saat Kekasih Nyabu
-
Tiga Kali Mangkir Berujung Borgol: Sekda Lampung Tengah Ditahan Polda Lampung Usai Diperiksa 9 Jam
-
Akselerasi Pembiayaan Perumahan, BRI Catat Penyaluran KPP Rp12 Triliun
-
Modal 7 Video Rekayasa Tambak Ikan, Mahasiswa di Way Kanan Kuras Tabungan Korban Rp700 Juta
-
Heboh 25 Merek Beras Gizi Palsu, Pemkot Bandar Lampung Sidak Pasar dan Ancam Tarik Paksa Produk