Wakos Reza Gautama
Rabu, 17 Juni 2026 | 13:36 WIB
Ilustrasi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (Kpw BI) Provinsi Lampung Bimo Epyanto menyebut adanya pengembangan industri bioetanol di Provinsi Lampung, memperkuat sektor pertanian sebagai sektor primer dengan adanya pengelolaan komoditas lokal. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Pemerintah pusat menetapkan Provinsi Lampung sebagai lokasi pengembangan ekosistem nasional untuk memproduksi bioetanol berbasis komoditas pertanian lokal.
  • Pembangunan pabrik pertama berlokasi di Pesawaran dengan target produksi tahunan mencapai 250 ribu kiloliter untuk mendukung program nasional E10.
  • Industri ini diproyeksikan meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif.

SuaraLampung.id - Selama puluhan tahun, singkong, jagung, dan tebu telah menjadi urat nadi ekonomi Provinsi Lampung. Sebentar lagi komoditas kebanggaan Bumi Ruwa Jurai ini tidak hanya akan berakhir di meja makan atau pabrik pakan, melainkan mengisi tangki kendaraan di seluruh pelosok negeri.

Provinsi Lampung secara resmi telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai lokasi perdana pengembangan ekosistem bioetanol nasional.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Lampung, Bimo Epyanto, melihat peluang emas ini sebagai pengungkit sektor pertanian yang luar biasa.

Menurutnya, industri bioetanol akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menyentuh langsung akar rumput.

"Di Lampung akan segera dikembangkan kawasan industri bioetanol. Ini bukan sekadar pabrik, tapi ekosistem. Bahan bakunya seperti singkong, jagung, tebu, sorgum, hingga limbah sawit bisa disuplai langsung oleh petani kita," ujar Bimo, Rabu (17/6/2026).

Targetnya tidak main-main. Lampung diharapkan mampu memproduksi 240 ribu hingga 250 ribu kiloliter bioetanol per tahun.

Angka ini mencakup 10 persen dari total kebutuhan nasional untuk mendukung program campuran etanol 10 persen (E10) yang ditargetkan berlaku mulai 2028.

Jantung dari industri ini akan berdenyut di Desa Kota Agung, Tegineneng, Pesawaran. Di sana, lahan seluas 20 hektare telah disiapkan untuk membangun pabrik pertama dari total empat titik produksi yang direncanakan.

Menariknya, industri ini tidak hanya mengandalkan tanaman tradisional. Sorgum, tanaman tangguh yang kaya manfaat, akan dibudidayakan secara masif di lahan sekitar Bandara Radin Inten II serta lahan milik PTPN Natar.

Baca Juga: Modus Numpang Ngecas, Residivis di Bandar Lampung Bawa Kabur HP Penjual Saat COD

Bimo menekankan bahwa transformasi ini akan mengubah peta ekonomi daerah. Nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan bahan mentah menjadi bioetanol dipastikan akan menaikkan harga di tingkat petani, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

"Hal yang paling penting bukan hanya nilai investasinya, tetapi bagaimana dampak nyata bagi masyarakat. Kami di Bank Indonesia siap mendukung penuh agar manfaat ini benar-benar dirasakan oleh petani kita," tambahnya. (ANTARA)

Load More