Wakos Reza Gautama
Rabu, 13 Mei 2026 | 07:33 WIB
Ilustrasi banjir di Bandar Lampung. Pemkot Bandar Lampung menargetkan penyelesaian masterplan penanganan banjir terintegrasi dan berkelanjutan pada tahun 2026 mendatang. [Lampungpro.co]
Baca 10 detik
  • Pemkot Bandar Lampung menargetkan penyelesaian masterplan penanganan banjir terintegrasi dan berkelanjutan pada tahun 2026 mendatang.
  • Strategi jangka pendek difokuskan pada normalisasi drainase, pengerukan sedimen, serta pembuatan sumur resapan di berbagai lokasi.
  • Pembangunan infrastruktur skala besar seperti kolam retensi dilakukan sebagai solusi jangka panjang untuk menahan debit air.

SuaraLampung.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung akan menata ulang "wajah" air di Kota Tapis Berseri. Bukan sekadar tambal sulam, Pemkot kini tengah memacu penyusunan sebuah masterplan penanganan banjir yang terintegrasi dan berkelanjutan. Targetnya cetak biru ini harus rampung tahun ini juga.

“Masterplan penanganan banjir kami targetkan selesai pada tahun ini,” ujar Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Bandar Lampung, Wilson Faisol, Selasa (12/5/2026).

Dokumen yang didanai langsung oleh kementerian ini bukan sekadar tumpukan kertas. Di dalamnya, tertuang strategi perang melawan banjir yang terbagi dalam tiga babak yakni jangka pendek, menengah, dan panjang.

Untuk jangka pendek, Pemkot akan langsung "bermain di lapangan". Fokusnya adalah mengembalikan fungsi saluran air yang selama ini tersumbat.

Pasukan kebersihan dikerahkan untuk pengerukan sedimen, normalisasi drainase, hingga memperlebar titik-titik penyempitan (bottleneck) yang sering ditemukan di bawah jembatan.

Tak hanya itu, solusi ramah lingkungan seperti sumur resapan dan biopori akan diperbanyak untuk memastikan air tak hanya sekadar lewat, tapi meresap kembali ke bumi. Namun, untuk benar-benar menjinakkan air dalam jangka panjang, diperlukan infrastruktur "berotot".

“Kalau membuat embung atau kolam retensi hingga seluas lima hektare, itu masuk rencana jangka panjang. Anggarannya besar, bisa mencapai puluhan miliar rupiah,” jelas Wilson.

Infrastruktur skala besar ini diproyeksikan menjadi kantong-kantong air raksasa yang akan menahan laju air sebelum sempat mengepung pemukiman warga.

Sejatinya, Bandar Lampung bukan tidak punya rencana. Kota ini sudah memiliki masterplan lama. Namun, pertumbuhan kota yang pesat dan perubahan iklim membuat dokumen tersebut usang.

Baca Juga: Aksi Bejat Pemulung: Cabuli Bocah 6 Tahun di Kamar Mandi Masjid Tanjung Senang

Alam telah berubah, dan pemerintah sadar bahwa strategi lama tak lagi ampuh meredam luapan air yang kian sulit diprediksi.

“Masterplan kota sebenarnya sudah ada, tapi harus di-update lagi. Kondisi sekarang sudah berbeda, banyak kejadian (banjir) terbaru yang harus menjadi perhatian serius kami,” tambah Wilson. (ANTARA)

Load More