- Fenomena El Nino memicu ancaman gagal panen di wilayah Lampung Selatan dan Lampung Tengah pada Selasa (18/8/2026).
- Pemerintah Provinsi Lampung melalui BPBD mengajukan Operasi Modifikasi Cuaca kepada BNPB untuk mengatasi kekeringan.
- BMKG menyatakan wilayah Lampung masih memiliki awan potensial yang dapat disemai garam untuk menghasilkan hujan buatan.
SuaraLampung.id - Di bawah bayang-bayang fenomena El Nino yang kian mencekik, hamparan sawah di Lampung Selatan dan Lampung Tengah mulai tampak merangas.
Tanah yang biasanya lembap dan subur, perlahan retak menyuarakan dahaga. Ancaman gagal panen kini bukan lagi sekadar kabar burung, melainkan hantu nyata bagi para petani di Lumbung Pangan Sumatera ini.
Berperang melawan hawa panas yang ekstrem, Pemerintah Provinsi Lampung memutuskan untuk melakukan strategi jemput bola.
Alih-alih hanya menunggu keajaiban dari alam, mereka akan memaksa langit untuk menangis melalui Operasi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang lebih dikenal dengan hujan buatan.
Baca Juga:Lindas Pria di Kolong Truk, Sopir Ini Santai Pindahkan Jasad Lalu Isi BBM ke SPBU
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Rudy Syawal, mengungkapkan bahwa laporan dari Dinas Pertanian sudah masuk ke mejanya. Sinyal bahaya telah menyala di beberapa wilayah sentra pangan.
"Sudah ada laporan tertulis bahwa musim kemarau ini mulai berdampak serius pada sektor pangan. Kami langsung bergerak meneruskan laporan ini ke BNPB untuk melakukan modifikasi cuaca," ujar Rudy, Selasa (18/8/2026).
Proposal telah dikirim, data pendukung telah disiapkan. Kini, mata pemerintah daerah tertuju pada gumpalan awan di atas sana.
Meski matahari terasa terik, kabar baik datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Langit Lampung ternyata belum sepenuhnya mandul.
Berdasarkan pantauan radar, masih banyak "awan potensial" yang menggantung rendah—awan yang siap melahirkan hujan jika diberi sedikit stimulus.
Baca Juga:Gunung Anak Krakatau Menggeliat, Abu Vulkaniknya Mulai Bikin Warga Pulau Sebesi Sesak Napas
"Di Lampung masih banyak awan yang mendukung. Jika kita tebarkan bubuk garam melalui hujan buatan, kemungkinan besar operasi ini akan berhasil," jelas Rudy.
Teknologi ini bekerja dengan cara menyemai partikel garam ke dalam awan untuk mempercepat proses kondensasi. Jika semua berjalan sesuai rencana, hujan akan turun membasahi daerah-daerah yang paling membutuhkan, memastikan padi-padi tetap hijau dan lumbung pangan tetap terisi.
Langkah darurat ini bukan hanya tentang menyelamatkan produksi beras nasional. Hujan buatan diharapkan mampu membawa efek domino, mengisi kembali sumur-sumur warga yang mulai mengering dan mendinginkan suhu udara yang kian menyengat.
"Tujuannya jelas, mencegah gagal panen. Tapi dampak positifnya juga akan dirasakan masyarakat luas untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah yang kering," tambah Rudy. (ANTARA)