- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mencatat 19 kali erupsi sepanjang periode Juni hingga Juli 2026.
- Pihak otoritas menaikkan status gunung menjadi Level III Siaga karena aktivitas vulkanik yang meningkat signifikan.
- Masyarakat serta nelayan dilarang beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah demi menjaga keselamatan jiwa.
SuaraLampung.id - Gunung Anak Krakatau, yang berdiri kokoh di wilayah Selat Sunda, tercatat mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Tak kurang dari 19 kali erupsi terjadi hanya dalam kurun waktu satu bulan terakhir, sejak Juni hingga Juli 2026.
Suara gemuruh dari perut bumi dan hembusan material vulkanik menjadi pemandangan rutin di pos pantau. Fenomena ini memaksa otoritas vulkanologi untuk menaikkan status gunung api legendaris ini dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Suwarno, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Rajabasa, mengungkapkan bahwa aktivitas gunung ini sedang berada dalam fase fluktuatif yang menuntut kewaspadaan penuh.
Tim ahli kini berjaga selama 24 jam nonstop untuk memelototi setiap pergerakan melalui layar instrumen dan pengamatan visual.
Baca Juga:Cemburu Buta, Pemuda Tega Bacok Tukang Ojek yang Dikira Pacar Baru Mantannya di Jati Agung
“Dari tanggal 2 Juni hingga 11 Juli 2026, telah terjadi 19 kali erupsi. Alat pemantau kami terus merekam adanya aktivitas kegempaan dan hembusan yang konsisten,” jelas Suwarno, Senin (13/7/2026).
Peningkatan status ke Level III (Siaga) ini bukan tanpa alasan. Geliat vulkanik yang terjadi di awal Juli menjadi sinyal kuat bahwa Anak Krakatau sedang tidak baik-baik saja. Lontaran material pijar dan awan panas bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan yang lama.
Oleh karena itu, bagi para pelancong yang ingin menikmati keindahan Selat Sunda maupun nelayan yang menggantungkan hidup di laut, kini ada garis pembatas yang tak boleh dilanggar.
Otoritas PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) menetapkan radius dua kilometer dari kawah sebagai zona merah yang mematikan.
“Anak Krakatau masih dalam status Siaga. Kami meminta dengan sangat agar nelayan dan wisatawan tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah. Keselamatan adalah yang utama,” tegas Suwarno.
Baca Juga:Cinta Sejati Hingga Ajal Menjemput: Pasutri Lansia Tewas Berpelukan dalam Kebakaran di Way Panji
Selain ancaman langsung dari kawah, cuaca ekstrem di perairan Selat Sunda juga menjadi tantangan tambahan. Para nelayan pun diminta untuk selalu memperbarui informasi resmi sebelum memutuskan melaut, agar tidak terjebak di antara amukan alam dan ombak.
Di tengah situasi yang fluktuatif ini, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang namun tetap waspada. Di era kecepatan informasi saat ini, Suwarno mengingatkan warga untuk tidak menelan mentah-mentah kabar burung yang beredar di media sosial.
"Pastikan hanya merujuk pada informasi resmi dari lembaga berwenang agar tidak terjadi kepanikan yang tidak perlu," pungkasnya. (ANTARA)