NU Harus Waspadai Faktor Kekuatan Ekonomi dari Luar Pengaruhi Hasil Muktamar ke-34

Salah satu faktor yang harus diwaspadai adalah kekuatan ekonomi dan politik dari luar kelompok nahdliyin.

Wakos Reza Gautama
Rabu, 22 Desember 2021 | 13:17 WIB
NU Harus Waspadai Faktor Kekuatan Ekonomi dari Luar Pengaruhi Hasil Muktamar ke-34
Ilustrasi Suasana jelang Muktamar NU ke-34 di Lampung, Rabu (22/12/2021). NU harus waspadai kekuatan ekonomi dari luar bisa pengaruhi hasil Muktamar ke-34. [Suara.com/Bagaskara]

SuaraLampung.id - Siapa yang terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-34 NU di Provinsi Lampung setidaknya dipengaruhi empat faktor. 

Salah satu faktor yang harus diwaspadai adalah kekuatan ekonomi dan politik dari luar kelompok nahdliyin.

Kekuatan ini berpotensi mempengaruhi hasil Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama mulai 22 hingga 24 Desember 2021 di Provinsi Lampung.

Dosen Ilmu Politik dan International Studies Universitas Paramadina A. Khoirul Umam mengatakan bahwa kekuatan dari luar kelompok nahdliyin itu kemungkinan menghendaki dukungan dari pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk agenda investasi dan politik ke depan, terutama pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
 
"Demi mencegah itu, butuh independensi dan netralitas para pemilih demi memilih pemimpin PBNU yang sesuai dengan aspirasi nahdliyin," kata Khoirul Umam sebagaimana dikutip dari pernyataan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (21/12/2021) dikutip dari ANTARA.

Baca Juga:Muhaimin Iskandar Berharap Tidak Ada Voting pada Pemilihan Ketua Umum PBNU

Ia menyebutkan ada beberapa faktor yang berpotensi memengaruhi arah keputusan pemilik hak suara di Muktamar NU kali ini, yakni: pertama, level independensi dan netralitas PWNU, PCNU, dan PCI-NU; kedua, efektivitas kekuatan pendukung masing-masing calon.

Ketiga, pengaruh kekuatan sel-sel ekonomi politik yang tersebar di berbagai politik, baik di level state actor (penyelenggara negara) maupun nonstate actor; keempat, potensi adanya intervensi kekuatan ekonomi politik dari eksternal nahdliyin.

Hipotesisnya, kata Umam yang pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidz PCI-NU Queensland, Australia itu, jika faktor pertama dan kedua yang lebih berpengaruh, hasil Muktamar Ke-34 NU akan menghasilkan kepemimpinan PBNU yang sesuai dengan aspirasi nahdliyin.

Namun, jika faktor ketiga dan keempat yang lebih dominan, NU akan jadi mesin politik pihak-pihak tertentu yang ingin menang pada Pemilu 2024.

"Tentu, itu tidak diinginkan semua pihak," ujar Umam menegaskan.

Baca Juga:Gus Yahya atau Said Aqil Siradj, Yenny Wahid: Keduanya Punya Kedekatan dengan Gus Dur

Dalam pengamatannya, dia menyebut ada dua kandidat kuat dan dua kandidat alternatif pada pemilihan Ketua Umum PBNU.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini