Tidak sedikit penduduk kolonis yang masih miskin. Taraf hidup mereka tidak lebih tinggi dari penghidupannya di pulau Jawa. Kemajuan dan kemakmuran yang nampak di Sukadana itu ada dihasilkan oleh kolonis, tetapi tidak untuk mereka.
Sebagai sebuah bangunan bersejarah peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang keberadaannya masih eksis, Bendung Argoguruh 1935 memiliki sejumlah potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah (history learning resources), khususnya sejarah lokal (local history).
Keberadaan Bendung Argoguruh 1935 memiliki nilai sejarah yang sangat penting terutama bagi masyarakat yang berada di sekitarnya. Masyarakat yang mendiami wilayah eks-kolonisasi Sukadana yang kini telah menjadi tiga wilayah pemerintahan (Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Timur, dan Kota Metro) memiliki keterikatan secara historis yang kuat.
Judul Buku : Bendung Argoguruh : Implementasi Politik Etis Bidang Irigasi di Kolonisasi Sukadana Tahun 1935-1942
Penulis : Febri Angga Saputra dan Elis Setiawati
Penerbit : Aura dan Pensil Bersejarah
Ukuran : 14x21
Tebal : xvi+82 halaman
Baca Juga:Ulasan Buku Besar Peminum Kopi, Original Story Andrea Hirata
Penulis: Shofiyurahman (Ketua HIMAS UM Metro)