Sebagai penghormatan kepada pejuang yang telah gugur dan sebagai upaya untuk terus mengenang pertempuran tersebut maka atas inisiatif Cokro maka dibangunlah Tugu Mardirahayu.
Cokro menyampaikan inisiatif tersebut kepada perangkat desa, setelah medapat respon akhirnya digelarlah beberapa kali rapat dan akhirnya dimulailah pembangunan Tugu Mardirahayu tersebut pada 29 Agustus 1996.
Proses pembangunan tugu tersebut melibatkan beberapa pihak antara Cokro, Komandan II Sriwijaya (Kolonel Bibit Waluyo), Koramil kecamatan Pekalongan, Noyo Darmo serta swadaya masyarakat Desa Gantimulyo.
Biaya pada pembangunan tugu tersebut kurang lebih sebesar Rp. 35.000.000 diperoleh dari sumbangan masyarakat dan donatur.
Baca Juga:HUT RI ke-76, 13 Rumah Terbakar di Jakarta Timur
Menurut keterangan Sumardi dalam pembangunan Monumen Tugu Mardirahayu banyak sekali pihak terkait yang ikut berjasa dalam berjalanya proses pembangunan baik dari pihak resmi yakni komandan II Sriwiaya Kodim maupun Koramil dan juga pihak yang tidak resmi seperti masyarakat yang ikut serta dalam membantu pembangunan.
Cokro sebagai koordinator bersama keluarganya ikut membantu dalam pembuatan tugu tersebut. Selain itu juga Noyo Darmo yang mewakafkan sebagian pekarangan rumahnya untuk tempat pembangunan Monumen Mardi Rahayu.
Antusiasme terlihat dari warga sekitar bergotong royong membantu tenaga sementara pihak aparat Desa Gantimulyo juga mendukung baik secara perizinan maupun surat menyurat yang dibutuhkan dalam pembangunan.
Salah seorang tokoh setempat yakni Muji menjelaskan keterkaitan masyarakat dengan Monumen Mardirahayu bisa di lihat dari sejarah Monumen Mardirahayu tersebut.
Yakni pada tahun 1949 telah terjadi pertempuran di daerah Lampung pada umumnya dan daerah 37 Gantimulyo pada khususnya yakni pertempuran mempertahankan kemerdekaan dari pihak penjajah Belanda.
Baca Juga:Link Live Streaming Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka
Bentuk bangunan Tugu Mardi Rahayu sendiri pada bagian bawahnya yaitu yang menopang patung pahlawan berbentuk persegi empat yang tingginya tiga meter.