Wakos Reza Gautama
Sabtu, 07 November 2026 | 08:16 WIB
Dewan Energi Nasional menyatakan Lampung memiliki potensi panas bumi sebesar 2,8 gigawatt.
Baca 10 detik
  • Provinsi Lampung mengalami defisit listrik 500 MW karena kapasitas pembangkit hanya 800 MW dari kebutuhan 1.300 MW.
  • Dewan Energi Nasional menyatakan Lampung memiliki potensi panas bumi sebesar 2,8 gigawatt untuk mengatasi krisis energi.
  • Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriani menegaskan riset energi hijau dikembangkan guna mencapai kedaulatan ekonomi daerah pada Jumat.

SuaraLampung.id - Provinsi Lampung hari ini berada di persimpangan paradoks energi. Di satu sisi, Bumi Ruwa Jurai masih terseok-seok menghadapi defisit listrik hingga 500 megawatt (MW).

Namun di sisi lain, tanahnya justru menyimpan harta karun energi bersih yang luar biasa berupa potensi panas bumi sebesar 2,8 gigawatt (GW).

Kesenjangan ini menjadi sorotan tajam Dewan Energi Nasional (DEN). Saat ini, kapasitas pembangkit di Lampung hanya mentok di kisaran 800 MW, jauh di bawah beban puncak konsumsi warga yang menembus 1.300 MW. Pemerintah pun mulai menginjak pedal gas untuk mempercepat hilirisasi panas bumi.

"Percepatan sedang dilakukan, dan Lampung adalah salah satu kuncinya karena punya kekuatan luar biasa pada potensi panas bumi," tegas Anggota DEN, Surono, dalam Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Lampung (Unila), Jumat (6/11/2026).

Selama ini, proyek panas bumi kerap terbentur resistensi publik terkait isu deforestasi. Namun, Surono meluruskan narasi tersebut dengan analogi tegas. Menurutnya, mustahil pengembang panas bumi merusak alam sekitar.

"Kalau pengusaha panas bumi merusak lingkungan, itu namanya bunuh diri. Panas bumi mutlak butuh resapan air hujan untuk mengisi cadangan air tanah," ujarnya.

Surono membeberkan fakta teknis. Meski izin konsesi geotermal bisa mencakup ratusan hektare, lahan fisik yang dieksploitasi nyatanya tak lebih dari 2 persen. Sisanya, 98 persen area justru wajib dijaga sebagai zona konservasi tangkapan air.

Keunggulan lain, geotermal adalah energi baseload (beban dasar) yang stabil, tidak plin-plan terpengaruh cuaca ekstrem layaknya tenaga surya atau angin, dan yang terpenting: bebas dari ketergantungan impor.

Peluang emas ini tak luput dari radar akademisi. Rektor Universitas Lampung, Prof. Lusmeilia Afriani, menegaskan transisi ke energi terbarukan bukan lagi opsi, melainkan pondasi mutlak bagi kedaulatan ekonomi daerah.

Baca Juga: Dibuatkan Air Minum Malah Merampok, Pria di Bandar Lampung Tega Seret Nenek 68 Tahun Pakai Motor

Kampus tertua di Lampung ini bahkan telah memacu berbagai riset energi hijau lokal. Tak hanya membidik proyek panas bumi di kawasan Ulubelu, Gunung Rajabasa, hingga Way Ratai, Unila juga merambah potensi biomassa singkong, limbah sawit, hingga konversi kotoran menjadi gas rumah tangga.

"Tantangan krisis global dan perubahan iklim ada di depan mata. Kami terjun langsung lewat riset agar tercipta swasembada energi mandiri di Lampung," kata Lusmeilia.

Secara nasional, panas bumi digadang-gadang menjadi tulang punggung net zero emission. DEN menargetkan kontribusi geotermal nasional melonjak bertahap: mulai dari 6–9 GW pada 2030, hingga mencapai puncaknya di angka 18–22 GW pada 2060 mendatang. (ANTARA)

Load More