Wakos Reza Gautama
Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:59 WIB
Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Lampung bersama petani tengah mengembangkan 400 batang bibit kopi arabika di Kebun Induk Hanakau di Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Dinas Perkebunan Provinsi Lampung berhasil membudidayakan kopi arabika di Kebun Induk Hanakau, Lampung Barat, pada Kamis (29/10/2026).
  • Eksperimen agrikultur tersebut sukses dilakukan pada ketinggian 800 MDPL, di bawah standar ideal 1.000 MDPL.
  • Aplikasi pupuk hayati cair berhasil memangkas masa panen tanaman menjadi 1,8 tahun saja.

SuaraLampung.id - Selama ini, Lampung lekat dengan citra sebagai surganya kopi robusta nasional. Namun, paradigma tersebut perlahan mulai bergeser.

Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Lampung bersama kelompok tani lokal sukses membuktikan terobosan baru membudidayakan kopi arabika di lahan berketinggian minim dengan masa panen yang dipangkas jauh lebih cepat dari siklus normal.

Eksperimen agrikultur ini dilakukan melalui pilot project percontohan (demplot) di Kebun Induk Hanakau, Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat.

Kepala Disbun Provinsi Lampung, Desti Arisandi, menjelaskan bahwa menanam arabika di Lampung bukanlah perkara mudah.

Karakter tanaman ini sangat manja, lazimnya mutlak membutuhkan lahan di atas ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (MDPL), sebuah topografi yang di Lampung praktis hanya dimiliki kawasan Ulubelu, Tanggamus.

Menariknya, kebun percontohan di Sukau justru berada di elevasi moderat, yakni sekitar 800 MDPL.

"Meski lahannya berada di bawah standar ideal 1.000 MDPL, kami tidak menyerah. Petani di Hanakau menanam sekitar 400 batang bibit kopi arabika murni yang disemai langsung dari biji, bukan dari teknik sambung pucuk (entres) maupun stek," beber Desti, Kamis (29/10/2026).

Kejutan terbesar datang dari fase produktivitasnya. Secara teori botani, tanaman arabika yang ditanam dari biji biasanya baru memasuki masa panen setelah menginjak usia 3 tahun ke atas.

Namun, lewat sentuhan teknologi pertanian berupa aplikasi pupuk hayati cair secara presisi, 400 pohon kopi di kebun tersebut sudah mampu menghasilkan buah ranum hanya dalam kurun waktu 1,8 tahun.

Baca Juga: Percikan Korsleting Mobil Hanguskan 5 Rumah di Lampung Barat, Kerugian Miliaran

"Ada percepatan pembuahan yang signifikan berkat perlakuan khusus pupuk hayati cair ini. Tanaman yang adaptif dan berbuah cepat tersebut kini kami rawat intensif untuk disiapkan menjadi sumber pohon induk penyedia benih unggul kita ke depan," terang Desti.

Kelayakan pohon-pohon ini nantinya akan dinilai secara resmi oleh tim pemulia tanaman independen sebelum ditetapkan sebagai sertifikasi kebun sumber benih arabika Lampung.

Meski arabika menunjukkan performa menjanjikan, Desti menegaskan langkah ekspansi ini bukan bermaksud menggeser takhta robusta yang telah mengakar kuat di Tanah Ruwa Jurai. Pasalnya, Lampung hingga kini masih kokoh bertengger sebagai produsen robusta nomor dua terbesar di Indonesia.

"Arabika akan kita kembangkan secara bertahap untuk membuka ceruk pasar baru bernilai ekonomi tinggi. Keduanya akan berjalan beriringan. Robusta tetap menjadi pilar utama dengan hamparan lahan terluas kita," pungkasnya. (ANTARA)

Load More