- Pemerintah Provinsi Lampung mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,254 triliun guna mencapai target kemantapan jalan provinsi sebesar 85 persen pada akhir tahun 2026.
- Kepala Dinas BMBK Lampung Taufiqullah menyatakan bahwa tingkat kemantapan jalan provinsi saat ini telah mencapai angka 79,79 persen dari total panjang jalan 1.695 kilometer.
- Pemerintah daerah berencana mengalihkan angkutan barang ke moda kereta api demi menekan biaya pemeliharaan jalan akibat truk bermuatan berlebih.
SuaraLampung.id - Sebagai wajah pertama yang menyapa siapa pun yang menginjakkan kaki di Pulau Sumatera, Provinsi Lampung tak ingin sekadar menjadi perlintasan yang terlupakan.
Kini sebuah proyek raksasa sedang dipacu. Ambisi besar untuk memastikan 85 persen jalanan di Bumi Ruwa Jurai dalam kondisi mantap pada akhir 2026.
Pemerintah Provinsi Lampung telah menyiapkan amunisi finansial yang tak main-main. Anggaran sebesar Rp1,254 triliun digelontorkan.
"Insya Allah, target kami pada akhir tahun ini bisa menyentuh angka 84,9 persen, atau kita bulatkan menjadi 85 persen," ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Lampung, Taufiqullah, Rabu (29/7/2026).
Lampung memikul beban strategis yang berat. Dengan total panjang jalan provinsi mencapai 1.695 kilometer, wilayah ini adalah jangkar mobilitas darat.
Mulai dari mereka yang berangkat dari ujung Aceh hingga perantau dari Jawa, semuanya dipastikan akan melewati aspal Lampung.
Saat ini, tingkat kemantapan jalan provinsi berada di angka 79,79 persen. Menambal selisih 5 persen menuju target bukanlah perkara mudah, namun dukungan infrastruktur nasional seperti Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 252 kilometer dan jalan nasional sepanjang 1.200 kilometer menjadi fondasi yang kuat.
"Lampung ini pintu gerbang. Semua mobilitas masyarakat dari utara Sumatera menuju Jawa pasti melintasi kita," jelas Taufiqullah.
Geliat perbaikan ini juga tak lepas dari efek bola salju kunjungan Presiden Joko Widodo pada 2023 lalu. Kado pusat berupa dana bantuan Rp400 miliar kini mulai mewujud dalam bentuk jalan rigid beton yang kokoh di titik-titik prioritas, termasuk di kawasan strategis Kota Baru.
Baca Juga: Bulog Bangun Pabrik Raksasa Pengolah Beras Kapasitas 120 Ton di Lampung Timur
Namun, membangun jalan saja tidak cukup. Taufiqullah mulai melirik strategi efisiensi jangka panjang yaitu memindahkan beban berat dari aspal ke rel kereta api.
Mengandalkan perhitungan cost-benefit ratio, ia percaya bahwa mendorong angkutan barang melalui moda kereta api akan secara signifikan menekan biaya pemeliharaan jalan yang selama ini membengkak akibat truk bermuatan berlebih. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Bulog Bangun Pabrik Raksasa Pengolah Beras Kapasitas 120 Ton di Lampung Timur
-
Pria Sumsel Tega Cabuli Anak Bawah Umur di Lampung Utara, Foto Polos Jadi Senjata Teror
-
Polda Lampung Musnahkan Narkoba Rp264 Miliar, Ratusan Senpi Rakitan Dipotong Habis
-
Detik-Detik Ibu di Way Kanan Melahirkan di Mobil Akibat Jalan Rusak Parah
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
BRI DPLK di BRImo, Solusi Siapkan Dana Pensiun Lebih Awal
-
Terkuak Skenario Berdarah Pembunuhan di Sekampung: Korban Ditikam 29 Kali Demi Menguasai Xpander
-
Fotografer di Lampung Timur Dibantai: Pelaku Diciduk di Bakauheni
-
Niat Siapkan Lahan Tanam Padi, Petani 80 Tahun di Lampung Utara Tewas Terjebak Kobaran Api
-
Gandeng Toyota dan Pertamina, RI Bangun Pusat Bioetanol Modern di Lampung: Sorgum Jadi Senjata Baru