- Pemkot Bandar Lampung berupaya melestarikan bangunan bersejarah sebagai cagar budaya untuk meningkatkan daya tarik pariwisata kota tersebut.
- Tim Cagar Budaya mulai mengidentifikasi dan mengusulkan berbagai situs bersejarah untuk ditetapkan statusnya sebagai aset cagar budaya.
- Pemanfaatan wisata sejarah diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal melalui peningkatan kunjungan wisatawan ke Bandar Lampung.
SuaraLampung.id - Di sudut-sudut Kota Bandar Lampung, terselip narasi masa lalu yang membeku dalam bentuk bangunan tua. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya onggokan bata yang lapuk dimakan usia.
Namun, di mata Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung, bangunan-bangunan tersebut adalah emas hitam yang siap dipoles menjadi magnet pariwisata masa depan.
Pemkot Bandar Lampung kini tengah berupaya menghidupkan kembali memori kolektif kota melalui pelestarian cagar budaya.
Tujuannya jelas, bukan sekadar menjaga sejarah agar tidak pupus, melainkan menjadikannya penggerak roda ekonomi yang nyata.
Langkah ini dimulai dengan sebuah misi penelusuran. Tim Cagar Budaya Kota Bandar Lampung kini memiliki tugas mengidentifikasi kembali setiap sudut jalan, bangunan, dan situs peninggalan yang memiliki nilai historis untuk diusulkan statusnya menjadi cagar budaya.
"Kami akan menelusuri kembali sejarah Bandar Lampung. Setiap bangunan yang memiliki nilai sejarah penting akan kami identifikasi dan usulkan," ungkap Asisten I Bidang Kesejahteraan Pemkot Bandar Lampung, Wilson Faisol, Selasa (30/06/2026).
Setelah mengusulkan Rumah Daswati, kantor pertama pemerintahan Lampung, sebagai pionir cagar budaya, kini targetnya meluas.
Pemkot ingin memastikan bahwa status "Kota Tapis Berseri" bukan sekadar julukan, melainkan identitas yang terpancar dari bangunan-bangunan ikoniknya.
Wilson menjelaskan bahwa wisata sejarah memiliki daya pikat tersendiri bagi pelancong modern yang haus akan cerita dan estetika masa lalu.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bangunan Tua, Rumah Daswati Diusulkan Jadi Cagar Budaya: Begini Nasibnya Sekarang
Kenaikan tingkat kunjungan wisatawan inilah yang diharapkan menjadi multiplier effect bagi perekonomian warga lokal.
"Jika pariwisata berjalan dan budaya tetap terjaga, perputaran ekonomi akan meningkat secara otomatis. Dampak langsungnya akan terasa bagi masyarakat, terutama para pelaku UMKM kita," tambah Wilson. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Bangunan Tua, Rumah Daswati Diusulkan Jadi Cagar Budaya: Begini Nasibnya Sekarang
-
Lihat Mantan Istri Bareng Pria Lain, Lelaki di Bandar Lampung Nekat Hajar Korban Hingga Terkapar
-
Mimpi Buruk di Balik Pintu Kos: Siasat Licik Teman Medsos Kuras Harta Mahasiswi di Bandar Lampung
-
Calon Atlet Tinju PON Lampung Dikeroyok Saat Hendak Latihan, 3 Pelaku Ditangkap
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
'Tokoh' Pesantren di Way Kanan Diciduk di Kaltim Usai Bertahun-tahun Cabuli Santriwati
-
Tembus 93 Persen Mulus, Lampung Utara Bakal Diguyur Proyek Jalan Rp76 Miliar Akhir Oktober
-
3 Kelurahan di Bandar Lampung Diusulkan Jadi Kampung Nelayan Merah Putih
-
Nekat Kirim Video Syur ke Keluarga Mantan Pacar, Pemuda di Tubaba Diciduk Polisi
-
Diduga Microsleep hingga Bus Terbalik Tewaskan 3 Penumpang di Mesuji, Sopir Malah Kabur