Wakos Reza Gautama
Senin, 04 Mei 2026 | 21:24 WIB
Ilustrasi harimau sumatra. Lembaga Konservasi (LK) Lembah Hijau, Lampung mencatatkan keberhasilan dalam upaya pelestarian satwa dilindungi dengan lahirnya dua ekor anak harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) dari pasangan induk penyintas jerat pemburu liar. [Lampungpro.co]
Baca 10 detik
  • Dua ekor bayi harimau sumatra lahir di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung, pada tanggal 14 Februari lalu.
  • Bayi kembar tersebut lahir dari pasangan induk penyintas jerat pemburu yang mengalami cacat fisik permanen.
  • Keberhasilan pembiakan ex-situ ini merupakan hasil program nasional untuk menjaga kelestarian genetik spesies yang terancam punah.

SuaraLampung.id - Kejamnya jerat kawat pemburu liar di pedalaman hutan Sumatera pernah merenggut kebebasan dan mencacatkan tubuh mereka secara permanen. Namun, kekejaman manusia rupanya gagal mematikan naluri dan takdir mereka untuk bertahan hidup.

Sebuah keajaiban dan sejarah baru dunia konservasi baru saja diukir di Lembaga Konservasi (LK) Lembah Hijau, Provinsi Lampung.

Dari rahim sepasang indukan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang keduanya berstatus "penyintas" (korban selamat) jerat maut, lahir dua ekor bayi harimau kembar yang sehat dan menggemaskan.

Komisaris LK Lembah Hijau Lampung, M. Irwan Nasution, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ia mengumumkan kabar gembira tersebut pada Senin (26/3/2026), membeberkan bahwa kedua bayi kucing besar endemik yang sangat terancam punah itu menghirup udara dunia pada 14 Februari lalu.

Kelahiran ini dicatat dengan tinta emas sebagai keberhasilan pembiakan ex-situ (di luar habitat asli hutan) yang pertama kali sukses dilakukan di wilayah Provinsi Lampung.

“Kelahiran bayi kembar ini memiliki arti yang teramat mendalam dan emosional bagi kami semua. Kedua anak harimau ini lahir dari pasangan induk yang bernama Kyai Batua dan Sinta. Anda harus tahu, keduanya adalah korban kebiadaban jerat pemburu dengan kondisi fisik yang cacat permanen,” ungkap Irwan.

Mundur beberapa tahun ke belakang, sejarah perjumpaan Kyai Batua dan Sinta dengan manusia dipenuhi darah dan rasa sakit.

Irwan mengisahkan, sang pejantan (Kyai Batua) berhasil diselamatkan dari ambang kematian oleh tim BKSDA Bengkulu-Lampung pada 2 Juli 2019 silam. Tubuh gagahnya ditemukan tak berdaya tercekik jerat baja di Desa Batu Ampar, Suoh, Lampung Barat.

“Akibat luka jerat yang sudah sangat parah dan membusuk, tim medis hewan dengan berat hati terpaksa mengambil keputusan terberat melakukan operasi amputasi (pemotongan) pada kaki kanan depan Kyai Batua demi menyelamatkan nyawanya,” kenang Irwan.

Baca Juga: Nyanyian Wanita Bongkar Skandal Besar 1.300 Pil Ekstasi di Bandar Lampung

Nasib tak kalah memilukan dialami oleh Sinta, sang indukan betina. Ia dievakuasi usai terkena jerat maut di wilayah hutan Bengkulu pada Desember 2024 lalu.

Kerasnya lilitan kawat membuat kaki kanan belakang Sinta terputus tragis. Dengan tubuh tak utuh, Sinta akhirnya dititipkan ke fasilitas LK Lembah Hijau untuk menjalani perawatan dan proses rehabilitasi panjang.

Siapa sangka, dua jiwa yang terluka dan cacat itu akhirnya dipertemukan di Lembah Hijau. Irwan menjelaskan bahwa perkawinan "Kyai Batua dan Sinta" bukanlah kebetulan, melainkan hasil racikan program strategis level nasional dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, melalui kerangka Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV.

“Program breeding (pembiakan) ini dieksekusi secara profesional bersama Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) melalui mekanisme rekomendasi perkawinan terkontrol,” urainya.

Dalam catatan Studbook Harimau Sumatra (buku silsilah genetik), Kyai Batua memegang nomor ID 1886, sementara istrinya, Sinta, memegang SB ID 1998. Keduanya kini menjadi pahlawan penyambung darah genetik bagi rasnya yang di ambang kepunahan.

“Mukjizat kelahiran ini membuktikan satu hal mutlak. Keterbatasan dan cacat fisik akibat konflik berdarah dengan manusia, sama sekali tidak menghalangi satwa liar untuk terus berkontribusi pada keberlanjutan masa depan spesiesnya, asalkan mereka dirawat dan dikelola dengan standar konservasi yang tinggi dan penuh welas asih,” imbuh Irwan.

Load More