- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menargetkan hilirisasi industri mulai tahun 2027 untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.
- Pemerintah daerah mengembangkan lima kawasan industri strategis guna mengolah bahan mentah menjadi produk jadi bernilai jual tinggi.
- Pembangunan Kawasan Industri Way Kanan seluas 4.500 hektare menjadi fokus utama untuk mendorong ekonomi sektor industri Lampung.
SuaraLampung.id - Selama puluhan tahun, Lampung dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Namun, di balik suburnya tanah Sang Bumi Ruwa Jurai, tersimpan sebuah ironi ekonomi. Kaya akan komoditas, namun masih miskin dalam nilai tambah.
Dari potensi nilai komoditas lokal yang mencapai Rp150 triliun, baru sekitar Rp30 triliun yang berhasil diolah di dapur industri sendiri. Sisanya? Mengalir keluar dalam bentuk mentah.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, ingin memutus rantai itu. Ia kini menatap tahun 2027 sebagai titik balik.
Sebuah visi besar bernama hilirisasi sedang disiapkan melalui pengembangan lima kawasan industri strategis yang tersebar dari pesisir hingga pedalaman.
Di antara lima wilayah yang dipersiapkan, Kawasan Industri (KI) Way Kanan menjadi sorotan utama. Dijadwalkan mulai dikerjakan pada 2027, kawasan berbasis agro seluas 4.500 hektare ini sudah memiliki "senjata" rahasia bernama anchor tenant.
"Kawasan Industri Way Kanan segera dikerjakan karena sudah ada perusahaan manufaktur yang menjadi penggerak utama. Mereka akan menopang ekosistem sehingga pengembangan bisa dilakukan lebih cepat," ujar Gubernur Mirza di Bandar Lampung, Jumat (24/4/2026).
Meski belum menyandang status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), pemerintah daerah terus tancap gas agar infrastruktur penunjang siap menyambut gelombang manufaktur yang akan mengolah hasil bumi Way Kanan langsung di tanah asalnya.
Visi Mirza tidak berhenti di Way Kanan. Secara sistematis, Lampung sedang memetakan wajah industrinya melalui lima pilar:
- KI Way Kanan (4.500 Ha): Benteng pertahanan industri agro.
- KI Tanggamus (1.200 Ha): Mengoptimalkan potensi laut melalui industri maritim.
- KAIL II Tanjung Bintang (127 Ha): Pusat manufaktur pendukung di Lampung Selatan.
- KI Katibung (300 Ha): Zona strategis untuk raksasa migas dan petrokimia.
- KI Rejosari (4.000 Ha): Megaproyek lintas kabupaten (Natar & Pesawaran) yang menjanjikan lahan luas untuk ekspansi industri skala besar.
"Kontribusi sektor industri terhadap PDRB kita baru 18 persen. Ini yang ingin kita dongkrak. Kita punya keunggulan infrastruktur pelabuhan yang sangat strategis untuk ekspor di kawasan Sumatera bagian selatan," tambah Mirza.
Baca Juga: Muslihat 'Titip Rokok' Berujung Petaka: Jeratan Pemuda Way Kanan Terhadap Bocah 13 Tahun
Selisih Rp120 triliun antara potensi komoditas dan nilai yang saat ini diolah adalah "uang yang hilang" dari kantong masyarakat Lampung.
Dengan adanya kawasan industri ini, diharapkan kelapa sawit, kopi, hingga kakao Lampung tidak lagi keluar pelabuhan dalam bentuk biji atau buah mentah, melainkan produk jadi bermerek yang memiliki nilai jual berkali lipat.
Pengembangan ini bukan sekadar membangun pabrik, tapi membangun masa depan. Saat ini, tiga kawasan sedang menjalani studi kelayakan intensif, sementara satu lainnya sudah mengantongi komitmen investor. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Terkini
-
Gandeng Toyota dan Pertamina, RI Bangun Pusat Bioetanol Modern di Lampung: Sorgum Jadi Senjata Baru
-
Tolak Setor Uang, Pak Ogah di Bandar Lampung Dibacok Brutal hingga Jari Putus: 1 Pelaku Diciduk
-
BBWS Petakan 5 Zona Merah Banjir di Bandar Lampung: Cek Wilayah Tempat Tinggal Anda
-
Dewi Natalia, Mantri BRI yang Tak Kenal Lelah Bantu Pedagang Keluar dari Jerat Rentenir
-
Dari Pintu ke Pintu, Kisah Dewi Natalia Membawa Pedagang Pasar Lepas dari Rentenir