- WALHI Lampung menyatakan banjir di Bandar Lampung sepanjang awal tahun 2026 merupakan krisis ekologis akibat kebijakan pembangunan tata ruang.
- Pemerintah daerah dianggap gagal mengelola anggaran normalisasi drainase senilai Rp15 miliar karena tidak menyentuh akar permasalahan lingkungan.
- Penyebab utama banjir adalah alih fungsi lahan resapan menjadi bangunan komersial serta kerusakan perbukitan yang tidak terkendali secara sistematis.
SuaraLampung.id - Setiap kali hujan deras mengguyur Bandar Lampung, skenario yang sama selalu berulang. Jalanan berubah jadi sungai, rumah warga terendam lumpur, dan jeritan minta tolong memenuhi udara.
Selama ini, "cuaca ekstrem" selalu menjadi kambing hitam yang nyaman. Namun, bagi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung, alasan itu sudah usang dan cenderung manipulatif.
Banjir yang mengepung Kota Tapis Berseri hingga memakan korban jiwa baru-baru ini dinilai bukan lagi murni fenomena alam.
Ini adalah sebuah "bencana yang diproduksi", sebuah dosa tata ruang yang lahir dari kebijakan pembangunan yang abai terhadap ekologi.
Direktur WALHI Lampung, Irfan Tri Musri, mengungkapkan fakta yang menyesakkan. Sepanjang awal tahun 2026 saja, banjir terus menerus menghantam kota ini. Puncaknya pada Maret lalu, di mana setidaknya 47 titik banjir muncul dalam satu peristiwa.
“Kondisi ini menegaskan bahwa banjir bukan lagi kejadian insidental, melainkan krisis ekologis yang terjadi secara sistematis dan terus berulang,” tegas Irfan dalam pernyataan resminya, Rabu (15/4/2026).
Irfan menuding pemerintah daerah telah gagal mengelola tata ruang. Bandar Lampung, menurutnya, sedang berada dalam cengkeraman "kejahatan ekologis" yang terstruktur.
Kritik pedas WALHI juga menyasar pada efektivitas penggunaan uang rakyat. Pemerintah Kota Bandar Lampung tercatat mengalokasikan sekitar Rp15 miliar untuk pembangunan dan normalisasi drainase. Namun, kenyataannya? Banjir tetap merendam titik yang sama, bahkan meluas ke wilayah baru.
“Anggaran ada, tapi salah arah,” cetus Irfan dikutip dari saibumi.com--jaringan Suara.com.
Baca Juga: Mencekam! Duel Nyali di Tanjungkarang: Anis Lawan Begal yang Umbar Tembakan di Tengah Hari
Ia menilai pembangunan fisik seperti drainase hanyalah solusi di permukaan. Tanpa memperbaiki daerah resapan air dan menghentikan kerusakan di wilayah hulu, miliaran rupiah tersebut seolah terbuang percuma ke dalam arus banjir.
WALHI juga menyoroti pola respons Wali Kota yang dinilai lebih mengedepankan "politik kemanusiaan" daripada "politik lingkungan".
Kehadiran pemimpin di lokasi bencana dengan membawa paket sembako dan santunan memang tampak menyejukkan, namun itu tidak akan pernah menghentikan banjir datang kembali.
“Ketika banjir terjadi, Wali Kota hadir membawa bantuan sembako dan santunan, tetapi tidak fokus pada bagaimana upaya pencegahan jangka panjang,” sindir Irfan.
Menurutnya, publik lebih butuh kebijakan tegas untuk menyelamatkan bukit dan sungai daripada sekadar bantuan pasca-bencana.
Penelusuran WALHI mengidentifikasi luka-luka lingkungan yang menganga di Bandar Lampung. Pertama adanya alih fungsi kawasan resapan menjadi mal, ruko, dan perumahan komersial.
Berita Terkait
-
Mencekam! Duel Nyali di Tanjungkarang: Anis Lawan Begal yang Umbar Tembakan di Tengah Hari
-
Bandar Lampung Lumpuh dalam Semalam: 16 Kecamatan Terkepung Banjir, Satu Nyawa Tak Tertolong
-
Genggaman Terakhir Suami yang Terlepas: Dewi Tewas di Tengah Amukan Banjir Bandar Lampung
-
Malam Mencekam di Bandar Lampung: Perjuangan Tim SAR Evakuasi 109 Warga dari Kepungan Banjir
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
Petaka Api Cemburu: Pria di Lampung Utara Tega Aniaya Kekasih hingga Tewas
-
BRI Raih Penghargaan Kemenpora, Perkuat Komitmen Majukan Industri Olahraga Nasional
-
Gerebek Kamar Kos, Polisi Ciduk Dua Pemuda dan Belasan Butir Ekstasi di Bandar Lampung
-
Dana Rp100 Miliar Mengucur, 50 Km Jalan Lampung Selatan Siap Mulus Total
-
BRI DPLK di BRImo, Solusi Siapkan Dana Pensiun Lebih Awal